contoh proposal penelitian alat peraga



PROPOSAL PENELITIAN

A.     JUDUL
PENGGUNAAN ALAT PERAGA UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA DALAM MEMAHAMI KONSEP PEMBAGIAN  DI KELAS II

(Penelitian Tindakan Kelas  pada siswa SD kelas II SDN 2 Sindangraja  Kecamatan Jamanis Kabupaten Tasikmalaya)


B.      LATAR BELAKANG
Perkembangan dunia saat ini  begitu pesat disertai dengan beberapa perubahan dalam berbagai hal seiring dengan bergulirnya globalisasi di semua sector kehidupan. Pada masa globalisasi, kualitas sumber daya manusia merupakan salah satu  modal utama untuk mengikuti arus globalisasi yang terus menerus berkembang.  Pendidikan merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia. Agar penyelenggaraan pendidikan berhasil menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas maka penyelenggaraannya harus dikelola dengan baik dan bermutu. Pendidikan juga merupakan tanggungjawab semua pihak, baik pemerintah, masyarakat maupun orang tua didik. Apabila semua unsur tersebut terlibat dan bekerja sama dengan baik maka tujuan pendidikan nasional untuk mencerdaskan bangsa akan tercapai dengan baik pula.
Pendidikan di tingkat Sekolah Dasar dilaksanakan untuk memberikan bekal dasar yang berupa pengetahuan, sikap dan keterampilan dasar. Mata pelajaran matematikan mulai diajarkan secara formal di tingkat SD sejak kelas satu.
Mutu pendidikan Indonesia secara umum belum beranjak jauh untuk mencapai standar mutu yang diharapkan. Salah satunya  kualitas dalam mata pelajaran matematika, masih rendah. Hasil penelitian tim Programme of International Student Assessment (PISA) 2001 menunjukkan, Indonesia menempati peringkat ke-9 dari 41 negara pada kategori literatur matematika.
Sementara itu, menurut penelitian Trends in International Mathematics and Science Study (TIMMS) 1999, peringkat matematika Indonesia berada di peringkat ke-34 dari 38 negara (data UNESCO). Sejauh ini, Indonesia masih belum mampu untuk naik ke posisi atas dan masih berada di papan bawah.
Hasil penelitian yang dipublikasikan di Jakarta pada 21 Desember 2006 juga menyebutkan, prestasi Indonesia berada jauh di  bawah Malaysia dan Singapura. Prestasi matematika siswa Indonesia hanya menembus skor rata-rata 411. Sementara itu, Malaysia mencapai 508 dan Singapura 605 (400 = rendah, 475 = menengah, 550 = tinggi, dan 625 = tingkat lanjut).  Menguasai Pelajaran matematika begitu penting, sebab Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan memajukan daya pikir manusia. Perkembangan pesat di bidang teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini dilandasi oleh perkembangan matematika di bidang teori bilangandan aljabar. Untuk menguasai dan mencipta teknologi di masa depan diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini.
Mempelajari matematika sesungguhnya dimaksudkan untuk menumbuhkembangkan kemampuan bernalar, yaitu kemampuan berpikir secara sistematis, logis dan kritis dalam mengomunikasikan gagasan atau memecahkan masalah.
Pembelajaran matematika adalah situasi dan interaksi antarasiswa dan guru secara sengaja dan rasa tanggungjawab untuk mencapai hasil baik di dalam pengajaran  matematika. Matematika SD adalah sekumpulan materi matematika dasar yang di pelajari siswa tingkat SD. Matematika SD penekannya pada penguasaan bilangan.
Pembagian merupakan kajian bidang aritmatika yang  merupakan operasi bilangan yang paling sulit dibandingkan dengan operasi hitung lainnya. Operasi pembagian diperkenalkan pada siswa setelah siswa mempelajari operasi perkalian.
Operasi Pembagian merupakan  kebalikan dari operasi perkalian. Pembagian juga didefinisikan sebagai pengurangan berulang sehingga diperoleh hasil akhir 0.  Konsep pembagian sebagai pengurangan berulang merupakan konsep dasar awal yang harus dikuasai oleh siswa SD sejak dini.
Pelajaran matematika kerap kali dijadikan pelajaran yang dianggap susah dan menakutkan, hal ini terjadi karena pendekatan yang gunakan terkesan kaku, sehingga pembelajaran menjadi monoton  yang pada akhirnya penguasaan materi pada anak didik menjadi tidak optimall. Oleh karena itulah guru harus senantiasa menggunakan berbagai teknik pembelajaran yang bervariasi agar tercapai tujuan instruksional. Tujuan ini dapat menyangkut aspek kognitif, afektif dan psikomotor.
Faktor guru merupakan salah satu penyebab rendah hasil belajar matematika, karena itu guru harus memahami secara baik bagaimana proses pembelajaran yang efektif dan bermakna bagi siswa. Supaya kegiatan belajar mengajar lebih bermakna bagi siswa, guru harus memilki kemampuan mengelola pembelajaran, menguasai materi pelajaraan, menggunakan metode dan alat peraga pembelajaran dengan tepat sehingga siswa termotivasi , tertarik dan senang mempelajari pelajaran matematika. Salah satu cara yang harus digunakan dalam penanaman pemahaman terhadap materi pelajaran adalah penggunaan alat peraga.
Alat peraga merupakan alat bantu mengajar dalam melakukan interaksi dengan siswa dan  untuk memudahkan pemahaman siswa erhadap  pelajaran yang harus dikuasai, yang pada akhirnya diharapkan dapat mempertinggi hasil belajar. Penggunaan  alat peraga  oleh guru merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan siswa  dalam mencapai tujuan pembelajaran yang akan di capai.
      Berdasarkan observasi yang dilakukan penulis terhadap pelaksanaan kegiatan belajar mengajar matematika dan diskusi dengan beberapa guru kelas lainnya, diketahui dalam pembelajaran matematika siswa SD kelas II mengalami kesulitan belajar  yaitu memahami konsep pembagian. Kenyataan ini di ketahui dengan rendahnya kemampuan dalam menyelesaikan soal-soal matematika, baik melalui tes formatif maupun ulangan semester dengan nilai rata-rata dibawah mata pelajaran lainnya.  Salah satu pokok bahasan  adalah siswa tidak memilki kemampuan dalam memahami konsep pembagian sebagai pengurangan berulang.
Untuk mengatasi masalah tersebut, dan menarik siswa menjadi lebih lebih aktif dan senang dalam proses pembelajaran, maka harus ada variasi dalam pembelajaran matematika yang digunakan oleh guru agar siswa lebih tertarik, lebih aktif, lebih senang, dan memahami materi yang diajarkan.
Untuk meningkatkan kemampuan siswa terhadap konsep pembagian, guru dituntut mampu mengelola pembelajaran menjadi lebih menarik dan menyenangkan diantaranya  dengan menggunakan alat peraga dalam proses pembelajaran matematika.
Guru sebagai tenaga pendidik harus senantiasa berupaya memperbaiki kualitas pembelajarannya menjadi lebih bermakna, menarik dan mudah dipahami dengan memperhatikan kondisi perkembangan psikologis anak didiknya, seperti yang dikemukakan oleh Piaget bahwa :
“Usia 7-12 tahun adalah merupakan tahap operasional konkrit, dimana pada masa ini siswa membutuhkan alat peraga sebagai jembatan untuk memahami materi matemataika. Penggunaan alat peraga yang tepat akan mempermudah siswa dalam memahami konsep yang diberikan”.
 Merujuk keterangan tersebut, guru harus senantiasa mampu menciptakan suasana pembelajaran yang menarik dan menyenangkan di dalam setiap pembelajarannya. Salah satu fungsi alat peraga menurut Russefendi (1992 :140) adalah :
a.      Dengan adanya alat peraga, anak-anak akan banyak mengikuti pembelajaran matematika dengan gembira, sehingga minat dalam memepelajari matematika semakin besar.
b.      Dengan disajikannya konsep abstrak matematika dalam bentuk konkret, maka siswa pada tingkat-tingkat yang lebih rendah akan lebih mudah memahami dan mengerti.
c.       Alat peraga dapat membantu daya tilik ruang karena tidak membayangkan bentuk-bentuk geometri terutama bentuk geometri ruang sehingga dengan melalui gambar dan benda-benda nyatanya akan terbantu daya tiliknya sehingga lebih berhasil dalam belajarnya
d.      Anak akan  menyadari adanya hubungan antara pengajaran dengan benda-benda yang ada disekitarnya
e.      Konsep-konsep abstrak yang disajikan dalam bentuk konkret yaitu dalam bentuk model matematika dapat dijadikan objkek penelitian dan dapat pula alat untuk penelitian,ide-ide baru dan relasi-relasi baru.

C.      IDENTIFIKASI DAN PERUMUSAN MASALAH
1.      Identifikasi Masalah
Dalam pembelajaran matematika di Sekolah Dasar, guru mengalami dan merasakan bahwa dalam mengajarkan pembagian mengalami kesulitan. Hal ini ditandai dengan lemahnya kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal pembagian sebagai pengurangan berulang . Dari bukti data dilapangan bahwa siswa kelas II SD Negeri 2 Sindangraja yang berjumlah 23 orang dalam mengerjakan soal pembagian mendapat nilai yang rendah di bawah niali mata pelajaran lain yaitu rata-rata 5,5. Dari hasil pengamatan kegiatan  pembelajaran matematika di SD Negeri 2 ditemukan bahwa siswa SD kelas II, nilai matematika khususnya pada operasi pembagian, dari 23 siswa tergolong memilki nilai yang beragam  dan penguasaan terhadap materi ini tergolong masih kurang.   Hal ini disebabkan oleh anggapan pada anak bahwa pembagian merupakan operasi yang paling sulit dibandingkan dengan penjumlahan, pengurangan dan perkalian.
Ketidakberhasilan siswa dalam memahami konsep pembagian sebagai pengurangan berulangan ini juga disebabkan oleh  terbatasnya variasi metoda pembelajaran dan minimalnya penggunaan alat peraga matematika dalam proses pembelajaran oleh guru, sehingga akhirnya proses pembelajaran cenderung tidak menarik serta siswa kurang aktif dalam pembelajaran, dampak selanjutnya adalah berpengaruh pada nilai akhir pelajaran matematika  pada siswa kelas II yang tergolong rendah.

2.      Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian masalah diatas, maka  dapat dirumuskan masalah secara umum yaitu sejauhmanakah penggunaan alat peraga untuk  meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami konsep pembagian di kelas II SD ?
Agar upaya tindakan dalam mengatasi permasalahan lebih terfokus, maka rumusan masalah dijabarkan dalam pertanyaan penelitian ini lebih dikhususkan yaitu dengan menggunakan alat peraga jenis manik-manik. Pertanyaan penelitiannya adalah sebagai berikut :
1.      Bagaimana perencanaan pembelajaran tentang konsep pembagian dengan menggunakan alat peraga jenis manik-manik dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami  konsep pembagian pada siswa SD di kelas II  ?
2.      Bagaimana proses pelaksanaan pembelajaran tentang konsep pembagian dengan menggunakan alat peraga jenis manik-manik dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami konsep pembagian pada siswa SD di kelas II ?
3.      Sejauhmanakah hasil pembelajaran siswa SD kelas II tentang  konsep pembagian dengan menggunakan alat peraga jenis manik-manik ?

3.      Penjelasan Istilah
Untuk mempelajari istilah dalam penelitian ini digunakan beberapa kata kunci atau peristilahan sebagai berikut :
a.      Penggunaan
Yang dimaksud dengan penggunaan adalah suatu proses, cara, perbuatan menggunakan sesuatu (depdiknas,2001 :375)
b.      Alat Peraga
Yang dimaksud alat peraga adalah alat untuk menerangkan atau mewujudkan konsep matematika. Benda-benda itu misalnya manik-manik atau kancing, kacang-kacangan untuk menerangkan konsep bilangan;kubus (bendanya) untuk menjelaskan konsep titik,ruas garis, daerah bujursangkar dan wujud dari kubus itu sendiri; benda-benda bidang beraturan untuk menerangkan konsep pecahan; benda-benda seperti cincin, gelang, permukaan gelas dan sebaginya unutk menerangkan konsep  lingkaran dan sebaginnya.
Alat peraga juga merupakan alat  bantu untuk mendidik atau mengajar siswa agar yang diajarkan oleh guru dapat mudah dipahami oleh siswa. Atau alat peraga adalah alat yang digunakan oleh guru unutk memperjelas materi yang diajarkan atau mengkonkritkan ikhwal yang abstrak (Nana Sudjana,1997 : 33)
c.       Manik-manik
Manik-manik biasanya terbuat dari keramik plastic atau bahan sistetis lainnya.
d.      Kemampuan
Kesanggupan melakukan sesuatu hal. (Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Modern, Mohamad Ali)
e.      Konsep Pembagian
Konsep merupakan suatu gagasan yang bersifat abstrak yang harus dipahami oleh siswa melalui beragam pengalaman. Penggunaan konsep bukanlah suatu yang sekali jadi, tetapi tumbuh setahap demi setahap dan makin lama makin dalam.

Pembagian yaitu suatu operasi hitung pada bilangan-bilangan yang dapat dikerjakan dengan cara kebalikan dari perkalian.
Operasi pembagian di definisikan sebagai pengurangan berulang sehingga hasil akhirnya 0. Contohnya, 12 : 2 bisa dimaknakan berapa kali mengurangkan 12 dengan 2 sehingga ahirnya 0. Contoh tersebut sama dengan 12-2-2-2-2-2-2 = 0, 12 harus dikurangi dengan 2 sebanyak 6 kali. Banyaknya pengurangan itulah hasil suatu pembagian.

D.     CARA PEMECAHAN MASALAH
Permasalahan tentang “Bagaimana penggunaan alat peraga manik-manik dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami konsep pembagian di Kelas II”, akan di kemas secara kolaboratif antara penulis sebagai peneliti dengan siswa sebagai objek yang diteliti.  Pemecahan masalahnya dilaksanakan dengan pembelajaran berulang (siklus). Pembelajaran berulang (siklus) ini direncanakan untuk dilaksanakan dalam beberapa siklus yang disesuai kan dengan kebutuhan dan ketercapaian fokus tindakan sesuai dengan indikator.
Kelas yang digunakan dalam penelitian ini adalah kelas II SD Negeri 2 Sindangraja dan Penulis saat ini bertindak sebagai guru kelas tersebut.
      Pemilihan pemecahan ini berdasarkan kepada asumsi bahwa menurut ahli pendidikan, alat peraga membantu menjelaskan sesuatu yang abstrak menjadi konkrit, anak usia SD terutama di kelas 2 masih memerlukan bentuk-bentuk benda konkrit untuk memahami suatu konsep, sehingga penulis menggunakan alat peraga jenis manic-manik sebagai alat untuk mencapai peningkatan pemahaman konsep pembagian sebagai pengurangan berulang.
      Dalam rangka pemecahan masalah, rencana pembelajaran berulang (siklus) pada PTK ini secara garis besar bila diuraikan akan tergambar sebagi berikut :
  1. Menyusun rancangan pembelajaran (scenario pembelajaran) yang berorientasi kepada penggunaan manic-manik dalam pembelajaran pembagian beserta instrument penelitiannya.
  2. Pelaksanaan tindakan dengan melaksanakan scenario pembelajaran
  3. Melakukan refleksi dengan cara mengidentiikasi data dan informasi temuan di lapangan,memverifikasi data dan informasi sesuai dengan masalahnya, dan menyusun simpulan serta rekomendasi tindakan yang perlu diupayakan dalam siklus berikutnya.

E.      TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN
1.       Tujuan Penelitian
Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran secara objektif mengenai penggunaan alat peraga yang berbentuk manik-manik untuk  meningkatkan kemampuan siswa dalam  memahami konsep  pembagian di kelas II SD.

Secara rinci tujuan  penelitian ini adalah sebagi berikut :
a.      Mengetahui prestasi yang diperoleh siswa pada konsep pembagian sebagai pengurangan berulang sebelum diberi tindakan
b.      Meningkatkan prestasi yang diperoleh siswa pada konsep pembagian setelah diberikan tindakan
c.       Mengetahui sejauhmana kemampuan siswa dalam memahami konsep pembagian di kelas II, jika pembelajaran menggunakan alat peraga jenis manic-manik.
2.      Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pihak-pihak terkait sebagi berikut ;
a.      Bagi Guru
Dengan dilaksanakannya Penelitian Tindakan Kelas ini diharapkan guru mampu mengembangkan kemampuannya dalam menggunakan alat peraga untuk menunjang keberhasilan proses pembelajaran dan keberhasilan belajar siswa.
Melalui penelitian ini juga guru terbiasa  melakukan pemecahan masalah melalui penelitian ilmiah untuk memecahkan permasalahan yang ditemui dalam pembelajaran sehingga dapat terus meningkatkan kualitas pembelajaran.
Penelitian ini juga memberikan pengalaman dan sebagai upaya meningkatkan profesionalisme guru sebagai tenaga pendidik pendidikan formal
b.      Bagi Siswa
Dengan penelitian ini siswa memperoleh pengalaman belajar yang lebih bermakna dari pembelajaran sebelumnya, serta memberikan motivasi tersendiri bagi siswa dalam meningkatkan kemampuan untuk memahami konsep pembagian.



F.       KERANGKA TEORITIS DAN HIPOTESIS TINDAKAN
1.      Kerangka Teoritik
a.      Hakikat matematika
Matematika adalah bahasa numerik, bahasa symbol, bahasa yang menghilangkan sifat kabur, majemuk dan emosional. Sejalan dengan ini Russenfendi, menyatakan matematika merupakan bahasa symbol, ilmu deduktif yang tidak menerima pembuktian secara induktif, ilmu tentang pola keteraturan, ilmu tentang struktur yang terorganisasi mulai dari unsure yang tidak terdefinisikan, ke unsur yang didefiniskan, ke aksioma, atau postulat dan akhirnya ke dalil (Russefendi,1995 :73). Sedangkan Jhonson dan Rising (1972) dlam bukunya mengatakan bahwa matematika adalah pola berpikir, pola mengorganisasikan, pembuktian yang logik. Matematika itu adalah bahasa yang menggunakan istilah yang didefinisikan dengan cermat, jelas, dan akurat, representasinya dengan symbol dan padat, lebih berupa bahasa symbol mengenai ide daripada bunyi. (Common Text Book,Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer,Tim MKPBM jurusan Pendidikan Matematika). Matematika itu merupakan ilmu deduktif yang tidak menerima generalisasi yang didasarkan kepada observasi (induktif) tetapi generalisasi yang didasarkan pada pembuktian secara deduktif.

b.      Perkembangan Kognitif Siswa Sekolah Dasar
Jean Piaget menyebut bahwa struktur kognitif ini sebagai schemata (Schemeas), yaitu kumpulan dari skema-skema. Seorang individu dapat mengikat, memahami dan memberikan respons terhadap stimulus disebabkan karena bekerjanya sekama ini. Piaget mengemukakan tentang perkembangan kognitif yang dialami oleh setiap individu secara rinci, dari mulai bayi hingga dewasa.
Berdasarkan hasil penelitian Piaget, bahwa ada empat tahap perkembangan kognitif dari setiap individu yang berkembang secara kronologis (menurut usia kalender) yaitu :
a.      Tahap Sensori Motor, dari lahir sampai umur sekitar 2 tahun,
b.      Tahap Pra Operasi, dari sekitar umur 2 tahun sampai dengan sekitar umur 7 tahun,
c.       Tahap Operasi Konkrit,dari sekitar umur 7 sampai dengan sekitar umur 11 tahun,
d.      Tahap Operasi Formal, dan sekitar umur 11 tahun dan seterusnya.

Seperti kita ketahui, Siswa SD rata-rata berusia sekitar 7-12 tahun. Pada usia ini menurut Piaget, merupakan tahap operasi konkrit. Guru-guru SD harus memahami bahwa harus mengetahui apa yang telah dimiliki oleh siswa Sd maupun kemampuan apa yang belum dimilikinya. Umumnya anak-anak pada tahap ini telah memahami operasional logis dengan bantuan benda-benda konkrit.
Anak pada tahap ini baru mampu mengikat definisi yang telah ada dan mengungkapkannya kembali, akan tetapi belum mampu merumuskan sendiri definisi-definisi tersebut secara tepat, belum mampu menguasai symbol verbal dan ide-ide abstrak.
            Bila dianalisis, antara hakikat matematika dengan perkembangan kognitif siswa Sekolah Dasar, maka akan terlihat sebuah tantangan besar bagi para pendidik. Matematika di satu sisi merupakan ilmu deduktif dan memilki objek yang abstrak sedangkan perkembangan kognitif siswa Sekolah dasar masih berada pada tahap konkrit dan induktif. Guru harus jeli dan mampu mengantisipasi kenyataan ini dengan mencoba menggunakan metode, strategi pembelajaran, dan alat peraga dan media yang relevan dalam mengajar matematika sehingga materi yang disampaikan lebih mudah dipahami oleh siswa. Paling tidak guru harus mampu mengurangi sifat abstrak dari objek matematika itu sehingga siswa dapat dengan mudah memahami pelajaran matematika yang mereka pelajari.
c.       Pembelajaran Pembagian di Sekolah Dasar
Matematika merupakan merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modrn, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan memajukan daya piker manusia.
Matematika mempelajari tentang pola keteraturan, tentang struktur  yang terorganisasikan. Hal itu dimulai dari unsur-unsur yang tidak terdefiniskan (undefined term, basic term, primitive  terms), kemudian unsur yang didefiniskan, ke aksioma/postulat, dan akhirirnya pada teorema (Russefendi,1980 :50 dalam Common Text Book,Strategi Pembelajaran MAtematika Kontemporer,Tim MKPBM jurusan Pendidikan Matematika hal : 25). Pembagian merupakan bagian dari operasi bilangan. 
Menurut  Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan SD kelas II, Ruang lingkup pelajaran matematika pada satuan pendidikan SD/MI meliputi aspek-aspek sebagai berikut :
                                            i.            Bilangan
                                          ii.            Geometri
                                        iii.            Pengolahan data
Pembagian diajarkan pada kelas II, semester II terkait dengan Standar Kompetensi Bilangan, dengan jenis kompetensi yang harus dikuasai adalah melakukan perkalian dan pembagian bilangan sampai angka dua.

d.      Pengertian Pembagian
Operasi pembagian dipelajari setelah operasi perkalian. Operasi pembagian merupakan kebalikan operasi perkalian.
Metode untuk mengajarkan Pembagian pada tahap awal yang paling sesuai adalah dengan menghubungkan ke konsep Pengurangan, yaitu dengan memandang pembagian sebagai pengurangan beruntun (24/4 = 6 artinya adalah 24 –4 –4 –4 –4 – 4 –4 = 0). Karena dengan pendekatan pengurangan beruntun ini, si anak dapat menggunakan pemahaman yang telah didapat selama mempelajari operasi pengurangan untuk selanjutnya digunakan mempelajari Pembagian.
Ada beberapa tahap untuk mengajarkan anak-anak mengenai konsep pembagian ini. Tahap-tahap ini bergantung pada kemampuan (bukan pada umur) anak tersebut secara unik sehingga tidak dapat dipaksakan dalam proses pengajarannya. Untuk memudahkan, cara pengajaran operasi pembagian dibagi menjadi tiga tahap, yaitu tahap pengenalan pembagian, tahap pembagian tradisional, tahap pembagian mental.
Salah satu tahap dalam mengajarkan konsep pembagian yaitu  Tahap Pengenalan Pembagian. Dalam tahap ini, diperkenalkan terlebih dahulu konsep Pembagian sebagai Pengurangan Beruntun dalam kehidupan sehari-hari,
Operasi pembagian di definisikan sebagai pengurangan berulang sehingga hasil akhirnya 0. Contohnya, 12 : 2 bisa dimaknakan berapa kali mengurangkan12 dengan 2 sehingga ahirnya 0. Contoh tersebut sama dengan 12-2-2-2-2-2-2 = 0, 12 harus dikurangi dengan 2 sebanyak 6 kali. Banyaknya pengurangan itulah hasil suatu pembagian.

e.      Alat peraga dalam pembelajaran matematika
Alat peraga juga merupakan alat  bantu untuk mendidik atau mengajar siswa agar yang diajarkan oleh guru dapat mudah dipahami oleh siswa. Atau alat peraga adalah alat yang digunakan oleh guru unutk memperjelas materi yang diajarkan atau mengkonkritkan ikhwal yang abstrak (Nana Sudjana,1997 : 33)
Alat peraga menurut Russefendi, 1995 ;229  adalah “alat unutk menerangkan atau mewujudkan konsep matematika”.
Alat peraga akan menjelaskan konsep abstrak menjadi konkrit, bila konsep abstrak di jelaskan dengan alat peraga maka siswa akan memahami sebagai sebuah pemahaman yang melekat, mengendap dan tahan lama berbeda dengan menggunakan tehnik menghapal suatu konsep yang lebih pada mengingat suatu pengertian.
Dengan menggunakan alat peraga maka :
                                I.            Proses belajar termotivasi. Baik murid maupun guru, dan terutama murid minatnya kan timbul. Ia akan senang, terangsang, tertarik dan karena itu akan bersikap positif terhadap pengajaran matematika
                              II.            Konsep abstrak matematika tersajikan dalam bentuk kongkrit dan karena itu lebih dapat dipahami dan dimengerti, dan dapat ditanamkan pada tingkat-tingkat yang lebih rendah.
                            III.            Hubungan antara konsep abstrak matematika dengan benda-benda di alam sekitar akan lebih dapat dipahami
                            IV.            Konsep-konsep yang tersajikan dalam bentuk konkrit yaitu dalam bentuk model matematik yang dapat dipakai sebagai obyek penelitian maupun sebagai alat untuk meneliti ide-ide baru dan relasi baru menjadi bertambah banyak.

Penggunaan alat peraga juga dapat dikaitkan dan dihubungkan dengan salahsatu atau beberapa dari :
                                            i.            Pembentukan sikap
                                          ii.            Pemahaman konsep
                                        iii.            Latihan dan penguatan
                                         iv.            Pelayanan terhadap perbedaan individual; termasuk pelayanan terhadap anak lemah dan anak berbakat
                                           v.            Pengukuran ; alat peraga dipakai sebagai alat ukur
                                         vi.            Pengamatan dan penemuan sendiri ide-ide dan relasi baru serta penyimpulan secara umum; alat peraga sebagai  obyek penelitiannya maupun sebagai alat untuk meneliti
                                       vii.            Pemecahan masalah pada umumnya
                                     viii.            Pengundangan untuk berfikir
                                         ix.            Pengundangan untuk berdiskusi
                                           x.            Pengundangan partisifatif aktif

2.      Hipotesis Tindakan

Berdasarkan  permasalahan dan tujuan penggunaan alat peraga jenis manik-manik dalam pembelajaran konsep pembagian serta rencana pelaksanaan serangkaian pembelajaran reflektif  dalam kontek Penelitian Tindakan Kelas (PTK), maka ditetapkan hipotesis tindakan pada penelitian ini yaitu : Apabila alat peraga berbentuk manik-manik digunakan dalam pembelajaran matematika maka akan meningkatkan pemahaman konsep  pembagian pada siswa SD kelas II


G.     METODE DAN RENCANA PENELITIAN
1.      Metode Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini merupakan suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif dan melakukan tindakan yang tepat dan dilaksanakan secara kolaboratif antara peneliti dengan subjek peneliti.
Dalam penelitian tindakan kelas ini penulis memilih metode deskriptif. Adapun pemilihan metode ini bertolak dari karakteristik metode deskriptif yaitu 1) masalah yang diamati adalah masalah yang aktual sebagai adanya  saat penelitian dilaksanakan, 2) lebih berfungsi untuk pemecahan masalah praktis  pendidikan, sedikit sekali fungsinya untuk pengembangan ilmu, 3) pemanfaatan temuan peneliti berlaku saat itu pula, yang belum tentu relevan untuk waktu masa yang akan datang, 4) hasil pengamatan dan kesimpulannya dipaparkan, dideskripsikan sebagaimana yang diamati.
Adapun model penelitian yang digunakan adalah model Kemmis & Taggart, dimana tindakan dan observasi dijadikan sebagai suatu kesatuan karena antara tindakan dan observasi merupakan dua kegiatan yang tidak tepisahkan. Maksudnya kedua kegiatan dilakukan dalam satu kesatuan waktu dan waktu tindakan berlangsung observasi  juga harus dilaksanakan.
2.      Setting penelitian dan karakteristik subjek penelitian
Yang menjadi subjek penelitian dalam penelitian ini adalah siswa dan guru dalam proses pembelajaran matematika. Penelitian dilaksanakan di kelas II SDN 2 Sindangaraja Kecamatan Jamanis Kabupaten Tasikmalaya. Jumlah Siswa kelas II adalah  23 orang terdiri dari 18 laki-laki dan 5 orang perempuan.
Adapun karakteristik dari subjek penelitian tersebut adalah sebagai berikut :
1)      Faktor siswa
-          Siswa pada dasarnya senang bermain dan tertarik pada alat peraga sebab secara psikologis lebih mudah memahami materi dengan menggunakan benda-benda konkrit
-          Siswa ingin lebih memahami serta menguasai konsep pembagian


2)      Faktor Guru
-          Guru merupakan guru kelas II yang sangat tertarik dalam mengembangkan alat peraga matematika dan ingin lebih meningktkan kemampuan siswa dalam menguasai konsep pembagian
-          Guru ingin mencoba alat peraga berbentuk manic-manik dalam pembelajaran konsep pembagian
-          Berdasarkan karakteristik tersebut, penulis menganggap penelitian  akan memungkin untuk dilaksanakan dengan lancar.

3.      Variabel yang diselidiki
Variabel-variabel yang disleidiki dalam penelitian ini,yang dapat dijadikan focus unutk menjawab permasalahan yang dihadapi terdiri dari :
a.      Variabel input
Pertama,penguasaan awal siswa terhadap materi pembagian sebelum tindakan pembelajaran. Kedua, penguasaan guru terhadap penggunaan alat peraga berbentuk manic-manik dalam pembelajaran konsep pembagian
b.      Variable proses
Variable proses  ini adalah tindakan guru dalam mengelola pembelajaran dengan mengunakan alat peraga berbentuk manic-manik  sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan
c.       Variabel output
Pertama, penigkatan guru dalam menggunakan alat peraga berbentuk manik-manik. Kedua peningkatan kemampuan pemahaman siswa tentang konsep pembagian setelah dilakukannya serangkaian tindakan pembelajaran reflektif.

4.      Rencana Tindakan
Penelitian ini terdiri dari 3 (tiga) siklus yang terdiri dari beberapa tindakan, tiap tindakan dilaksanakan sesuai perubahan yang ingin dicapai.
Untuk dapat melihat sejauhmana kemampuan pembagian pada siswa diadakan tes awal sedangkan observasi dilakukan untuk mengetahui tindakan apa yang di berikan dalam rangka meningkatkan kemampuan pembagian.
Dari hasil tes awal dan observasi maka refleksi dilakukan untuk melihat penggunaan alat peraga berbentuk manik-manik   dalam meningkatkan pemahaman konsep   pembagian pada siswa SD kelas II.
Dengan berpatokan pada refleksi awal tersebut, maka diadakan tindakan kelas dengan prosedur (1) perencanaan, (2) tindakan, (3) observasi, (4) refleksi dalam setiap tindakan yang dilakukan berulang.
Penelitian Tindakan Kelas ini berdasarkan pada model Kemmis &  Mc.Taggart. Dimana komponen tindakan dan observasi merupakan satu kesatuan/kegiatan yang tidak terpisahkan. Jadi alur  kegiatan Penelitian Tindakan Kelas  dapat digambarkan sebagai berikut :


















 
















                     
 













Gbr. Alur kegiatan Penelitian Tindakan Kelas
Modifikasi Model Kemmis dan Mc Taggart

Secara lebih rinci pelaksanaan  Penelitian Tindakan Kelas untuk tindakan pertama dapat dijabarkan sebagai berikut :
1. Observasi dan Identifikasi masalah
Kegiatan yang dilakukan :
·         Melakukan kegiatan orientasi dan observasi dengan focus perhatian terhadap pelaksanaan pembelajaran di kelas II SD Negeri 2 Sindangraja
·         Mengidentifikasi permasalahan yang dirasakan dalam pembelajaran matematika.
·         Menetapkan prioritas masalah pembelajaran matematika di kelas II, berdasarkan hasil identifikasi maslah,prioritas masalah jatuh pada sub pokok bahasan pembagian
·         Menetapkan alternative pemecahan masalah. Dalam hal ini kesulitan siswa dalam memahami konsep pembagian, solusi yang akan dicoba dengan penggunaan alat peraga jenis manik-manik .
2.      Perencanaan Tindakan
Kegiatan yang dilakukan dalam tahap perencanaan ini adalah :
a.      Membuat rencana pembelajaran termasuk skenario pembelajaran konsep pembagian dengan menggunakan alat peraga berbentuk manik-manik
b.      Membuat lembar observasi untuk mengamati bagaimana proses pembelajaran konsep pembagian  dengan menggunakan alat peraga berbentuk manic-manik
c.       Menyiapkan alat bantu pembelajaran berupa  alat peraga berbentuk manik-manik
d.      Membuat alat evaluasi unutk dapat melihat sejauhmana peningkatan penguasaan siswa terhadap konsep pembagian
3.      Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan pada prinsipnya merupakan realisasi dari suatu tindakan yang sudah direncanakan. Dalam hal ini skenario pembelajaran yang terdapat dalam rencana pembelajaran.



4.      Observasi
Pada tahap ini dilakukan proses observasi terhadap pelaksanaan tindakan yang menggunakan lembar observasi untuk melihat bagaimana penggunaan alat peraga berbentuk manik-manik  dilaksanakan.
5.      Refleksi
Dilakukan dengan cara kolaboratif, yaitu mendiskusikan mengenai berbagai masalah yang terjadi di kelas dengan para partisipan yang terkait, hasil yang didapat dalam tahap observasi dikumpulkan dan dianalisa untuk menentukan tindakan selanjutnya.
6.      Data dan Cara Pengumpulannya
Data diperoleh dari sumber data penelitian yaitu siswa dan guru. Jenis data yang didapat adalah kualitatif dan kuantitatif berupa (1) hasil belajar, (2) hasil observasi
      Adapun cara pengumpulan data dari data-data tersebut diatas adalah sbeagi berikut  :
1)      Data hasil belajar
Data hasil belajar diperoleh dengan memberikan tes tertulis kepada siswa berupa tes awal dan tes akhir. Tujuannya untuk melihat ada tidaknya peningkatan hasil belajar siswa tersebut sebelum dan sesudah pembelajaran dengan menggunakan alat peraga berbentuk manik-manik. Tes tidak diujicobakan kepada siswa tetapi dikonsultasikan dengan pembimbing dan didiskusikan dengan guru-guru. Bobot penilaian tiap item soal adalah 1 bila menjawab benar dan 0 bila menjawab salah.
2)      Data hasil observasi
Data tentang situasi pembelajaran saat dilaksanakan tindakan dengan menggunakan observasi dan pencatatan lapangan. Dalam kegiatan observasi dibuat kesepakatan  bersama unutk mendiskusikan hasil observasi setelah pembelajaran selesai dan data hasil terkumpul untuk kemudian menentukan tindakan yang akan dilakukan selanjutnya.
7.      Indikator Kinerja
Evaluasi keberhasilan dari pembelajaran dengan menggunakan alat peraga berbentuk manik-manik, didasarkan pada ketercapaian indikator berikut :
a.      Guru dipandang berhasil, apabila guru dapat melaksanakan sekurang-kurangya 80 % langkah-langkah pembelajaran yang dirumuskan dalam langkah pembelajaran
b.      Siswa dipandang berhasil apabila siswa dapat melaksanakan sekurang-kurangnya 80 % kegiatan dari langkah-langkah pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru
c.       Hasil tes siswa dengan batas lulus 6 dan bobot penilaian untuk tiap item soal adalah 1 bila menjawab dengan benar dan 0 bila menjawab salah

8.      Tim Peneliti dan Tugasnya
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dilaksanakan oleh peneliti yang juga merupakan guru kelas di kelasnya sendiri (kelas II SD Negeri Sindangraja II). Dalam rangkaian penelitian ini akan dilibatkan mitra yang bertindak sebagai observer.

H.     JADWAL PENELITIAN

No

Kegiatan
Minggu Ke :
Januari
Pebruari
Maret
April
Mei
Juni
1
2
3
4
1
2
3
4
5
1
2
3
4
1
2
3
4
5
1
2
3
4
1
2
I.
Persiapan
























1.
Pengajuan judul
























2.
Penentuan Pembimbing skripsi
























3.
Komunikasi judul dengan pembimbing skripsi
























4.
Penyusunan Proposal skripsi
























5.
Penyerahan proposal skripsi
























6.
Perstujuan proposal skripsi
























II.
Pelaksanaan
























1.
Pembuatan instrument penelitian
























2.
Pembelajaran siklus 1
























3.
Pembelajaran siklus 2
























4.
Pembelajaran siklus 3
























III
Laporan
























1.
Draft
Bab I
























2.
Draft
 Bab II
























3.
Draft
 Bab III
























4.
Draft
 Bab IV
























5.
Draft
 Bab V
























IV.
Penyelesaian Skripsi













































LEMBAR OBSERVASI

Tanggal Pembelajaran                 : …………………………..
Nama SD Tempat Penelitian        : …………………………...
Kelas                                              : ……………………………
Nama Guru                                   : …………………………...

No
Aspek
Hasil Observasi
A.
PERENCANAAN
1.      Bahan
  1. Kesesuaian bahan ajar dengan tujuan instruksional (Pengajaran)
  2. Kesesuaian bahan ajar dengan minat siswa

  1. Keseuaian bahan ajar dengan kemampuan siswa


 ……………………………………………………………
……………………………………………………………
……………………………………………………………
……………………………………………………………
……………………………………………………………
……………………………………………………………
……………………………………………………………
……………………………………………………………
2.      Alat atau  media belajar
  1. Kesesuian alat peraga dengan bahan pelajaran

  1. Keseuaian alat peraga dengan tujuan pembelajaran

  1. Kesesuaian alat peraga dengan minat siswa

……………………………………………………………
……………………………………………………………
……………………………………………………………
……………………………………………………………
……………………………………………………………
……………………………………………………………
……………………………………………………………
……………………………………………………………
……………………………………………………………
B.
PELAKSANAAN


1.      Ketepatan menggunakan alat peraga

2.      Menunjukkan contoh dengan menggunakan manik-manik
3.      Menunjukkan operasi pembagian dengan menggunakan manik-manik
4.      Menjelaskan proses pembagian sebagai pengurangan berulang
5.      Membentuk kelompok. Kemudian guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempraktekkan pembagian menggunakan manik-manik di kelompok masing-masing
6.      Membimbing siswa dalam menggunakan alat peraga
7.      Melakukan latihan pembagian
8.      Mengadakan diskusi kelas untuk menyimpulkan pelajaran
……………………………………………………………
……………………………………………………………

……………………………………………………………
……………………………………………………………
……………………………………………………………
……………………………………………………………

……………………………………………………………
……………………………………………………………
……………………………………………………………
……………………………………………………………

……………………………………………………………
……………………………………………………………
……………………………………………………………
……………………………………………………………
C.
HASIL BELAJAR SISWA
a.      Nilai baik sekali (9-10)
b.      Nilai baik (7-8)
c.       Nilai Sedang (6)
d.      Nilai Kurang (4-5)
e.      Nilai Kurang Sekali (0-3)
    Pretes                         Post tes
…….………..orang            …..………..orang
…….………..orang            …..………..orang  
…….………..orang            …..………..orang  
…….………..orang            …..………..orang  
…….………..orang            …..………..orang           
4
KENDALA
  1. Faktor Guru


  1. Faktor Siswa



  1. Faktor fasilitas



…………………………………………………………..
…………………………………………………………..
…………………………………………………………….
…………………………………………………………….
…………………………………………………………….
…………………………………………………………….
…………………………………………………………….
…………………………………………………………….
…………………………………………………………….




























Angket
Penggunaan alat peraga berbentuk manic-manik unutk meningkatkan kemampuan siswa dalam memahamai konsep pembagian ,

1.      Menurut pendapat kamu, selama ini pelajaran yang paling sulit adalah…..
a.      Matematika
b.      IPA
c.       PPKn
Alasannya……………………………………………………………………………………………..
…………………………………………………………………………………………………………….
2.      Menurut kamu, belajar pembagian dengan menggunakan manic-manik …..
a.      Mudah
b.      Sedang
c.       Sukar
Alasan …………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………………
3.      Bagaimana perasaan kamu setelah mengikuti pelajran matematika dengan menggunakan alat peraga jenis manic-manik………….
a.      Senang
b.      Kurang Senang
c.       Tidak senang
Alasan …………………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………………………….
4.      Menurut kamu, jika setiap pelajaran matematika menggunakan alat peraga jenis manic-manik,maka pelajaran akan …..
a.      Mudah
b.      Sedang
c.       Sukar
Alasan ……………………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………………………………..
5.      sdjasdhjsa





























Instrumen Penelitian
  1. Instrumen Perencanaan Pembelajaran
3.      Apa tujuan Pembelajaran yang ingin di capai
4.      Apa tujuan pembelajaran khusus yang ingin dicapai
5.      Materi apa yang akan di ajarkan
6.      Media belajar apa yang akan digunakan
7.      Buku-guku sumber apa yang akan di pakai sebagai rujukan
8.      Metode apa yang akan digunakan dalam proses pembelajaran
9.      Bagaimana kegiatan pembelajaran yang akan di lakukan
a.      Kegiatan Awal (Waktu)
b.      Kegiatan Inti (Waktu)
c.       Kegiatan Akhir (Waktu)
10.  Evaluasi apa yang apak dipakai untuk melihat ketercapaian tujuan

  1. Instrumen Pelaksanaan Pembelajaran
9.       
  1. Instrumen Hasil belajar








0 Responses to “contoh proposal penelitian alat peraga”

Post a Comment