Artikel Tata Surya dan Bumi


KUMPULAN ARTIKEL TATA SURYA DAN BUMI

Bumi dalam Tata Surya
By : Purwo Sutanto


Semua benda-benda langit yang tersebar di jagad raya disebut alam semesta. Di dalamnya terdapat kelompok-kelompok bintang yang berkerumun dengan jumlah tak terbilang. Setiap kelompok disebut galaksi, salah satunga bernama Galaksi Bima Sakti (Mylky Way).
Galaksi bima sakti memiliki struktur spiral berbentuk cakram, terdiri atas lebih dari 40 milyad bintang, salah satunya adalah matahari. Dari tepi ke tepi panjangnya sekitar 100.000 tahu cahaya, sedangkan tebal benjolan tengahnya sekitar 15.000 tahun cahaya ( 1 detik cahaya = 300.000 km). Bima sakti termasuk berukuran sedang apabila dibandingkan dengan kelompok lainnya. Galaksi lain yang terdekat dengan bima sakti adalah galaksi Andromeda (berupa kabut/nebula) yang jaraknya 80.000 tahun cahaya. Karena luasnya yang tak terhingga menyebabkan alam semesta tetap dalam keadaan gelap, meskipun di dalamnya terdapat lebih dari 2 milyar galaksi dengan masing-masing memiliki bintang-bintang yang bersinar jauhnya melebihi matahari dengan jumlah tak terbilang.
Para ilmuwan sepakat bahwa benda-benda di alam semesta terbuat dari unsur-unsur yang hampir sama. Ada dua teori yang sangat terkenal mengenai terbentuknya alam semesta, pertama teori ledakan, kedua teori ekspansi dan kontraksi.

A. Teori Ledakan
Teori ini bertolak dari asumsi bahwa pada awal mulanya ada suatu massa yang luar biasa besarnya (big bang) dengan berat jenis sangat besar. Akibat adanya reaksi inti maka massa yang luar biasa besarnya tersebut meledak dan berserakan kemudian mengembang dengan sangat cepat menjauhi pusat ledakan.
Setelah jutaan tahun, maka massa yang berserakan membentuk kelompok-kelompok yang akhirnya menjadi galaksi. Kelompok-kelompok itu terus bergerak menjauhi pusatnya. Teori ini didukung dari hasil pengamatan bahwa galaksi-galaksi itu memang terus bergerak menjauhi titik pusat yang sama.

B. Teori Ekspansi dan Kontraksi
Teori ini dilandasi adanya pemikiran bahwa alam semesta mengalami siklus setiap 30 milyar tahun sekali, yaitu terjadinya massa ekspansi dan massa kontraksi. Pada massa ekspansi terbentuklah galaksi-galaksi beserta bintang-bintangnya. Ekspansi ini disebabkan adanya tenaga yang berasal dari reaksi inti hidrogen yang pada akhirnya membentuk berbagai unsur yang kemudian menyusut kembali karena mengeluarkan tenaga panas yang tinggi. Berdasarkan teori ekspansi dan kontraksi, maka sebenarnya alam semesta ini tidak berawal dan tidak berakhir.

C. Sistem Tata Surya.
Susunan tata surya terdiri dari planet-planet bersama masing-masing satelitnya, asteroid, komet, dan kumpulan meteorit. Hipotesis pertama mengenai terbentuknya tata surya dikemukakan pada tahun 1755 oleh Immanuel Kant (1724-1804). Ia menyatakan bahwa tata surya terbentuk dari suatu zat utama (primary matter) yang memenuhi ruang angkasa. Bagian dari zat ini yang berupa zat padat berada dalam keadaan diam tak bergerak, tetapi satu sama lain memiliki massa dan kepadatan yang berbeda.
Akibat gaya tarik menarik antara sesama partikel tersebut mulai bergerak dan berkondensasi secara terpisah. Proses ini terus berlangsung dan saling berinteraksi. Kondensasi-kondensasi yang lebih besar menarik kondensasi yang lebih kecil dan terbentuklah knots (simpul) yang besar dari zat tersebut.
Selain gaya tarik juga ada gaya tolak. Gerakan yang diakibatkan gaya ini menyebabkan partikel yang bertemu saling bertubrukan dan terpental satu sama lain ke arah yang berbeda-beda. Arah yang paling sering dituju oleh partikel yang bergerak ini menjadi predominant (pengaruh semakin kuat) dan suatu massa dari simpul yang terdiri dari zat utama tadi mulai bergerak ke satu arah, mengitari satu simpul yang terbesar dalam kelompok itu.
Menurut Pierre Laplace (1748-1827) pada tahun 1796 mengatakan bahwa matahari, planet-planet beserta satelitnya terbentuk dari zat-zat yang pada mulanya berupa gumpalan awan gas yang mengembun dalam keadaan berputar berbentuk seperti cakram. Akibat gaya tarik antara sesama partikel-partikel, maka pusat nebula mengalami kondensasi. Pada massa awal pembentuka tatasurya, bagian ini menjurus ke arah terbentuknya matahari sebagai pusat tatasurya. Pada mulanya matahari diselimuti oleh suatu nebula yang bergerak sejajar mengitarinya. Partikel-partikel yang terdekat dengan matahari membentuk orbit dengan radius kecil, sementara yang berada pada jarak yang lebih jauh orbit lingkarannya memiliki radius lebih panjang pada jangka waktu yang sama. Oleh karena itu semakin jauh jarak dari titik pusat tata surya, semakin lemah pengaruh gaya tariknya, dan semakin kuat gaya sentrifugalnya. Pada jarak tertentu dari titik pusat tersebut, kekuatan-kekuatan ini mencapai keseimbangan. Titik keseimbangan ini merupakan batas antara susunan tata surya terhadap gugusan benda-benda yang ada di cakrawala lainnya.
Karena hipotesis Kant dan Laplace hampir mirip, maka kedua hipotesis tadi dikenal dengan sebutan Hipotesis Kant dan Laplace.
Matahari adalah sebuah bintang, merupakan pusat tata surya yang jaraknya dari bumi 149.500.000 km, dengan panjang garis tengah pada equatornya 1.400.000 km. Wujudnya berupa gas pijar berbentuk bola dengan massa 332.000 kali massa bumi. Temperatur inti matahari tidak kurang dari 25.000.000oC, sedangkan di permukaannya sekitar 6.000oC. Matahari berotasi pada kutubnya dengan perioode antara 24-26 hari, sedangkan periode pada equatornya 34-37 hari di bumi.
Menurut Nicolas Copernicus (1473-1543) menyatakan bahwa matahari sebagai pusat tata surya (Heliosentris). Teori ini kemudian dimodifikasi oleh Kepler (1551-1630), Ishak Newton (1643-1727), dan Galileo-Galiley (1564-1642).
Matahari memiliki sembilan planet yang bergerak mengelilinginya, enam di antaranya memiliki satelit-satelit yang juga bergerak mengelilingi planetnya. Planet-planet tersebut adalah; Mercurius, Venus, Bumi, Mars, Yupiter, Saturnur, Uranus, Neptunus, dan Pluto.
Bumi memiliki garis tengah equator sejauh 12.756 km, dengan densitas 5,52 gram/cm3, memiliki satelit bernama Bulan. Waktu untuk mengelilingi matahari satu putaran selama 365,25 hari (setahun), dengan kecepatan gerak 965.600 km/jam. Sedangkan waktu sekali putar (rotasi) selama 24 jam, dengan kecepatan translasi di equator lebih dari 1.600 km/jam (radius bumi = 6.378,2 km). Bagian luar Bumi diselimuti lapisan udara yang disebut atmosfera.
Bumi disebut juga planet biru, karena tampak berwarna biru apabila dilihat dari luar angkasa. Planet ini sangat unik dalam tata surya akrena terdapat air dalam tiga fase sehingga memiliki lautan dan kutub es serta terjadi siklus hidrologi yang berkesinambungan. Di Bumi juga berlangsung proses-proses geologis secara aktif, yaitu terjadinya siklus geologi yang menyebabkan permukaan Bumi terus mengalami perubahan dan peremajaan sepanjang waktu.
Bentuk Bumi tidak bulat sempurna, melainkan menyerupai oblate spheroid yaitu agak pepat pada kutub-kutubnya. Panjang jari-jari di kutub 6.356,8 km, dan di ekuator 6.378,2 km, dengan luas permukaan 510.100.954 km2. bentuk seperti ini disebut Geoid. Secara teoritis pepatnya bumi disebabkan adanya rotasi sejak awal pembentukannya sewaktu Bumi belum padat. Akibatnya, pada bagian yang searah dengan sumbu rotasi akan terjadi pemampatan, sedangkan yang tegak lurus, yaitu yang searah dengan equator akan mengalami pengembangan.
Bentuknya yang unik menyebabkan permukaan Bumi memiliki kekuatan grafitasi yang berbeda. Secara umum di wilayah kutub kekuatan gravitasinya lebih besar daripada di katulistiwa. Percepatan gravitasi dari kutub ke equator perubahannya secara perlahan. Namun demikian, dibeberapa tempat ada yang gaya tariknya di atas normal (positive gravity anomaly) dan juga di bawah normal (negative gravity anomaly). Anomali ini disebabkan faktor geologis setempat, seperti adanya batuan berdensitas rendah dan batuan berdensitas tinggi atau mungkin adanya gejala struktur pada bagian dalam bumi.
Bumi memiliki satelit, yaitu bulan. Bulan berdiamer 3.456 km, sedangkan jaraknya dari bumi 384.395 km. Bulan berotasi sambil mengelilingi Bumi. Waktu yang dibutuhkan untuk sekali rotasi sama tepat dengan waktu untuk revolusi, sehingga permukaan Bulan yang tampek ke Bumi selalu tetap sama. Volume Bulan hanya 1/82 dari volume Bumi dan gravitasinya 1/6 dari gravitasi Bumi. Tak ada air dan udara, oleh sebab itu permukaan Bulan tetap abadi karena terjadi siklus geologi layaknya Bumi.

D. Sifat-sifat Panas Bumi
Bumi memiliki sifat panas yang berasal dari luar (eksternal heat) dan dari dalam (internal heat). Panas luar berasal dari pancaran panas matahari, yang besarnya sekitar 10 pangkat 21 kalori setiap tahun. Penerimaan panas dipermukaan Bumi tidaklah merata tergantung pada radian energi dan beberapa faktor lain seperti distribusi daratan dan perairan, kedalaman, tinggi rendah permukaan Bumi (setiap penambahan tinggi 100 m, suhu turun 0,5oC), penyebaran tumbuhan, arus laut, angin, dan jenis batuan.
Gradien geotermal, adalah tingkatan kenaikan temperatur dalam derajat Celcius apabila turun atau masuk ke dalam Bumi tiap 100 meter. Di Eropa rata-rata 3oC/100m, di Amerika Utara gradien geotermalnya sekitar 1,6oC/ 100 meter.
Fluktuasi suhu udara di dekat permukaan Bumi sangat tinggi, kadang mencapa 100oC. Namun fluktuasi ini semakin berkurang apabila ke arah dalam Bumi, dan pada kedalaman tertentu hilang sama sekali (daerah zone of constant annual temperature). Pada zona ini suhu tanah sama dengan suhu udara di atasnya karena di bagian atasnya diselimuti oleh zona heliothermal, yaitu lapisan kulit Bumi (lithosfera) yang mendapat panas Matahari.
Di bawah lapisan zona yang bersuhu konstan terdapat zona geothermal, yaitu daerah yang suhunya tetap tinggi bukan akrena pengaruh sinar matahari, tetapi panasnya berasal dari dalam perut bumi.
Derajat geotermik tidak sama untuk setiap tempat, hal ini disebabkan beberapa faktor:
1. Perbedaan sifat penghantar panas lapisan tanah. Semakin tinggi daya penghantarya, semakin rendah derajat geotermiknya.
2. Proses-proses reaksi kimia dari kandungan air yang terdapat dalam lapisan tanah dan batuan.
3. Kondisi yang menyebabkan terbentuknya batuan (tegak/liring atau datar).
4. Gerakan air bawah permukaan (tergantung aliran airnya panas atau dingin).
5. Gerakan air di permukaan Bumi. Di dekat lautan atau laut derajat geotermiknya akan lebih tinggi daripada tempat-tempat yang jauh terhadap lautan.
6. Konsentrasi unsur-unsur radioaktif batuan. Tempat berradioaktif tinggi, derajat geotermiknya menurun).
Dengan patokan derajat geotermik 33 meter untuk lapisan-lapisan lithosphera, maka pada kedalaman 33 km suhunya 1.000 oC dan pada kedalaman 66 km berarti akan mencapai 2.000oC. pada suhu setinggi ini maka batuan-batuan di bawah litosfera akan mencair, tetapi karena pada kedalaman tersebut tekanannya tinggi (11.000-14.000 atmosfer), menyebabkan batuan-batuan atau zat-zat berada dalam keadaan padat dan plastis. Apabila derajat geotermik tetap 33 meter, berarti panas di pusat bumi sekitar 193.060oC, berarti zat-zat di perut Bumi dan Mantel Bumi dalam keadaan cair. Dalam keadaan seperti ini maka lapisan permukaan bumi juga akan mencair. Dengan demkian, suhu pada bagian dalam bumi tidak akan melebihi antara 3.500-4.000oC. hal ini dengan perhitungan adanya tekanan pada tempat tersebut sebesar 4.163.450 atmosfer. Pada kondisi seperti ini maka batuan dalam mantel dan pusat bumi bentuknya kenyal dan padat. Hal ini sesuai dengan data astronomi dan seismologis.
Pendapat terakhir menyatakan bahwa panas yang terjadi pada lapisan litosfera berasal dari adanya reaksi zat radioaktif. Unsur-unsur yang mencair akibat reaksi ini akan bertambah volumenya sehingga tekanannya meningkat dan dapat mengakibatkan erupsi dalam bentuk massa cair.
Sumber: Agung Mulyo, 2004, Pengantar Ilmu Kebumian, Bandung: Pustaka Setia
Planet Kebumian dan Serpihan Lainnya di Tata Surya
Ditulis oleh ivie pada 3/30/09 • Kategori Tata Surya
Di Tata Surya, planet-planet hanya seperti serpihan dibandingkan Matahari. Di antaranya terdapat serpihan-serpihan besar yang kita kenal sebagai planet raksasa. Namun ada juga serpihan kecil yang jika dibandingkan dengan Matahari bisa dikatakan serpihan ini seperti titik-titik debu.  Serpihan kecil di Tata Surya tersebut, jika digabungkan massanya hanya 1/5 dari massa planet raksasa terkecil. Selain itu jumlah momentum sudutnya juga jauh lebih kecil.Yang unik, tak seperti planet raksasa, serpihan-serpihan kecil ini secara keseluruhan berupa objek padat di Tata Surya. Meskipun massanya sangat kecil, mereka tersusun dari berbagai komponen yang sangat menarik dari sisi kimia, geologi, dinamika sistem maupun secara biologi. Karena komposisinya yang padat itulah serpihan-serpihan tersebut dikenal sebagai planet kebumian.
Planet kebumian Merkurius, Venus, Bumi dan Mars. Kredit : NASA
Nah, dalam kelompok planet kebumian Bumi dan Venus menempati objek terbesar di antara objek-objek lainnya dengan radius sekitar 6000 km dan berada pada jarak 1 SA dan 0,7 SA dari Matahari. Selain Bumi dan Venus, masih ada dua planet kebumian yang lebih kecil yakni Mars dan Merkurius dengan radius 3500 km dan 2500 km. Merkurius merupakan planet yang sangat dekat dengan Matahari yang berada pada jarak 0,4 SA dan Mars berada sedikit lebih jauh dari Bumi pada jarak 1,5 SA dari Matahari. Kesemua planet kebumian di Tata Surya memiliki atmosfer dengan komposisi dan kerapatan yang berbeda-beda satu sama lainnya.  Atmosfer Merkurius merupakan yang paling tipis dan bersama Bumi keduanya memiliki pembangkit medan magnet internal.
Selain keempat planet kebumian, terdapat juga tujuh satelit yang massanya cukup besar bergerak mengikuti planet -planet raksasa dan Bumi. Tak hanya itu, Tata Surya juga diisi oleh kelompok plutoid yang massanya tak jauh berbeda dari massa Pluto. Di kelompok ini terdapat Pluto, Haumea, Makemake, dan Eris. Di antara keempat objek plutoid, hanya Haumea yang sampai saat ini belum diketahui apakah memiliki atmosfer atau tidak. Ketiga plutoid lainnya diketahui memiliki atmosfer yang tersusun oleh metana. Di pluto komponen lainnya yang ada di atmosfer adalah nitrogen dan karbon monoksida sedangkan di Makemake, jika nitrogen memang ada dalam atmosfer maka diperkirakan nitrogenlah yang mendominasi atmosfer Makemake.
Utuk satelit, Ganymede dan Titan memiliki ukuran yang lebih besar dari Merkurius namun kerapatan yang rendah membuat mereka tidak semasif Merkurius.  Beberapa satelit seperti Titan, Triton, Io, dan Bulan diketahui memiliki atmosfer tipis.  Objek batuan lainnya di Tata Surya adalah asteroid Asteroid diyakini merupakan planet yang gagal terbentuk dan terperangkap dalam gaya gravitasi dua planet besar yang ada di dekatnya. DI Tata Surya, asteroid bisa ditemui di sabuk Asteroid yang berada di antara Mars dan Jupiter. Asteroid yang juga dikenal sebagai planet minor memiliki radius < 500 km. Objek-objek kecil lainnya juga ada di dalam Tata Surya, seperti satelit-satelit mungil yang mengitari planet-planet maupun komet yang sesekali muncul dengan ekor indahnya saat dekat Matahari.
Perbandingan asteroid dan komet di Tata Surya. Kredit: NASA
Sebagian besar komet diperkirakan berada di awan Oort, suatu area yang berada jauh dari Matahari, pada jarak ~1,5 x 104SA. Diperkirakan untuk komet yang lebih besar dari 1 km, jumlahnya mencapai 1010 - 1013. Komet periode pendek diketahui lebih banyak menghabiskan masa hidupnya di Sabuk Kuiper, piringan pipih yang berada di luar area Neptunus pada jarak ~35 - 500 SA (?). Jumlah total objek dengan radius lebih dari 1 km yang ada di Sabuk Kuiper berkisar antara ~108 - 1010. Massa total objek yang ada di Sabuk Kuiper dan awan Oort masih belum diketahui dengan pasti.
Objek batuan terkecil yang ada di Tata Surya justru berada di cincin planet-planet raksasa berupa partikel pembentuk cincin dan juga pada debu komet. Namun sampai saat ini, partikel-partikel tersebut belum diteliti lebih jauh sebagai objek tunggal hanya sebagai satu kesatuan pada cincin planet atau pada komet
Stabilkah Tata Surya?
Ilustrasi tabrakan dua benda masif. Kredit Gambar : : NASA/JPL-Caltech/T. Pyle (SSC/Caltech)
Stabilkah Tata Surya? Dalam perhitungan-perhitungan yang sudah dilakukan oleh para astronom, terlihat kalau Tata Surya merupakan sistem yang stabil. Delapan planet disertai asteroid, planet katai dan objek lainnya di Tata Surya mengelilingi Matahari memang tampak memiliki kestabilan yang luar biasa dalam jangka waktu panjang. Dalam berbagai teori, Tata Surya bahkan lebih stabil dibandingkan sistem extrasolar planet. Tapi ternyata di antara kumpulan planet ini, ada kemungkinan terjadinya tabrakan bukan hanya oleh meteor, atau kemungkinan diakhirinya hidup Bumi saat Matahari tua nanti dan menjadi raksasa merah. Ternyata planet Jupiter, si planet gas raksasa di Tata Surya ini menyimpan kemungkinan yang mengerikan. Apa itu?
Jupiter ternyata memiliki pengaruh gravitasi yang sangat kuat terhadap planet lainnya, terutama planet yang jauh lebih kecil. AKibatnya, mas depan planet-planet kecil di Tata Surya akan jadi suram jauh sebelum Matahari berubah jadi raksasa merah. Dan planet kecil itu tentunya termasuk Bumi. Dalam perjalanannya, gaya gravitasi Jupiter kelak akan menggangu Merkurius dan menyebabkan planet terdekat Matahari ini mengalami peningkatan eksentrisitas orbit yang besar. Bahkan Merkurius diperkirakan akan masuk dalam jalur Venus. Dan Bumi pun akan merasakan akibatnya.
Jupiter, planet kelima yang mengorbit Tata Surya pada jarak 5 SA atau 5 kali jarak Bumi ternyata walau dengan jarak yang sangat jauh pun menjadi masalah bagi planet lainnya. Gaya gravitasi Jupiter memang sangat besar, yakni 318 kali gravitasi di Bumi. Dan ini memang menjadi masalah bagi planet dalam di Tata Surya termasuk Merkurius. Merkurius sendiri dalam Tata Surya merupakan planet terdekat dengan jarak 0,47 SA (saat berada di titik terjauh dari Matahari) dan 0,31 SA (saat berada pada jarak terdekat dnegan Matahari). Massa Merkurius juga sangat kecil, hanya 0,055 kali Massa Bumi.
Simulasi yang dilakukan oleh Jacques Laskar dari Paris Observatory, juga Konstantin Batygin dan Gregory Laughlin dari University of California, Santa Cruz, menunjukan gravitasi Jupiter akan mengganggu orbit Merkurius, dan menyebabkan si planet kecil ini memperluas orbitnya sampai memasuki orbit Venus, atau bahkan Merkurius akan menabrak Matahari. Ada 4 kemungkinan jika Merkurius mengalami gangguan oleh jupiter yakni :

1.      Merkurius akan menabrak Matahari
2.      Merkurius akan terlontar keluar dari Tata Surya
3.      Merkurius akan menabrak Venus
4.      Merkurius akan menabrak Bumi
Ke-4 skenario kemungkinan itu sama sekali tidak menyenangkan bagi Merkurius yang harus mengakhiri hidupnya di Tata Surya lebih dahulu dibanding lainnya. Tapi kemungkinan Merkurius menabrak Bumi tentu sesuatu yang sangat menakutkan bagi kita. Bagaimana dengan kehidupan di Bumi? Kalau tabrakan besar asteroid dan komet bisa memusnahkan sleuruh dinosaurus, maka tak pelak kehidupan di Bumi bahkan Bumi sendiri akan hancur jika ditabrak Merkurius yang berdiameter 4880 km. Mungkin Bumi hanya menyisakan serpihan kecil jika tabrakan itu benar terjadi.
Nah itu tadi berita buruknya. Berita baiknya adalah, kemungkinan terjadinya ketidakstabilan di Tata Suryai itu hanyalah 1% sebelum Matahari berubah menjadi raksasa merah dan menelan Merkurius, Venus, Bumi dan Mars dalam 7 milyar tahun ke depan.
Sumber : UniverseToday, Daily Galaxy, Chaotic diffusion in the Solar System (J. Laskar), dan On the dynamical stability of Solar System (Batygin & Laughli

KOMENTAR :
Tata surya merupakan kumpulan benda langit, dan matahari sebagai pusatnya. Sebagian besar benda langit beredar atau berevolusi  mengelilingi matahari dengan lintasan berbentuk elips. Bumi berputar mengelilingi matahari, ( berevolusi 365 hari, 6 jam, 9 menit dan 10 detik ).
Bumi berwana biru sehingga bumi dikatakan sebagai planet biru. Disinilah kehidupan berada. Bumi merupakan planet ke lima terbesar, dimana terdapat adanya kehidupan. Bumi tempat tinggal manusia,, hanya sayang manusia pada zaman ini seolah tidak memberdayakan bumi sebagai tempat hidupnya. Tidak memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia  di bumi dengan baik, bahkan sebagian manusia tanpa sadar telah merusaknya. Kebiasaan menebang hutan, ekploitasi sumberdaya alam yang berlebihan, sifat kurang ramah terhadap lingkungan, membuang sampah sembarangan dan lain-lain menjadikan bumi menjadi rusak. Ekploitasi hutan-hutan perawan diberbagai daerah menjadikan hutan Indonesia menjadi berkurang fungsinya sebagai pemasok oksigen, sehingga suhu udara menjadi panas.
Para ilmuwan sepakat bahwa benda-benda di alam semesta terbuat dari unsur-unsur yang hampir sama. Ada dua teori yang sangat terkenal mengenai terbentuknya alam semesta, pertama teori ledakan, kedua teori ekspansi dan kontraksi.
            Mengamati ketiga artikel diatas, saya berpikir bahwa benda-benda dialam semseta jumlahnya sangat banyak. Jumlahnya bisa jutaan bahkan milyaran. Banyaknya benda langit ini mengisyaratkan kebesaran Tuhan Yang Maha Kuasa sebagai pencipta alam semesta. Yang menciptakan benda langit sesuai dengan fungsinya, benda langit beredar sesuai dengan porosnya yang dikendalikan begitu teratur. Bisa dibayangkan jika benda-benda yang ada dilangit tidak dikendalikan dengan teratur, maka akan terjadi benturan yang maha dahsyat, dan apa jadinya jika itu terjadi. Bagaimana dengan bumi, tentu akan ikut hancur berantakan. Kita patut bersyukur Allah SWT mengatur benda langit sesuai begitu teratur.

.


















NAMA                                    : DENDI KAMAL
NIM                             : 2108090057
KELAS                      : I E
KARYAWAN

MATA PELAJARAN ILMU ALAMIAH DASAR

0 Responses to “Artikel Tata Surya dan Bumi”

Post a Comment