Mengenal Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) | Langkah-langkah Model Pembelajaran Contextual Teaching And Learning.

Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)

Pengertian Model Contextual Teaching and Learning (CTL)

Model CTL merupakan cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan. Model CTL mengandung unsur prosedur yang disusun secara teratur dan logis serta dituangkan dalam suatu rencana kegiatan untuk mencapai tujuan. Menurut Knowles (1977:133) dalam Sudjana (2005:14) Model CTL adalah pengorganisasian peserta didik di dalam upaya mencapai tujuan. Model berkaitan dengan teknik yaitu langkah-langkah yang ditempuh dalam metode untuk mengelola kegiatan pembelajaran.

Hal ini sesuai dengan Abdul Madjid (2006 : 136 -137) metode dalam pendidikan merupakan cara yang ditempuh atau dipergunakan dalam upaya memberikan pemahaman pada siswa. Metode yang dipergunakan oleh guru dalam proses pembelajaran dapat beragam, yang perlu diperhatikan adalah akomodasi menyeluruh terhadap prinsip-prinsip kegiatan belajar mengajar yaitu; (1) berpusat pada siswa atau student oriented; (2) belajar dengan melakukan atau learning by doing; (3) mengembangkan kemampuan social atau learning to live together; (4)mengembangkan keingintahuan dan imajinasi; (5) mengembangkan kreativitas dan ketrampilan memecahkan masalah.

Pembelajaran Kontekstual atau dikenal dengan istilah Contextual Teaching And Learning (CTL) menurut Mulyasa (2006 : 102) merupakan konsep pembelajaran yang menekankan pada keterkaitan antara materi pembelajaran dengan dunia kehidupan siswa secara nyata, sehingga siswa mampu menghubungkan dan menerapkan kompetensi hasil belajar dalam kehidupan sehari-hari. Siswa akan merasakan pentingnya belajar dan akan memperoleh makna yang mendalam terhadap apa yang dipelajarinya. Hal ini sesuai dengan pendapat Sanjaya (2006 : 109)

Contextual Teaching And Learning (CTL) adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan pada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk menerapkannya dalam kehidupan.
Dari pengertian tersebut terdapat tiga konsep dasar CTL yaitu :
  1. CTL menekankan pada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi artinya proses belajar diorientasikan pada proses pengalaman secara langsung;
  2. CTL mendorong agar siswa dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata sehingga materi akan bermakna dan tertanam erat dalam memori siswa sehingga tidak mudah terlupakan;
  3. CTL mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan artinya CTL bukan hanya mengharapkan siswa dapat memahami materi yang dipelajari akan tetapi bagaimana materi itu dapat mewarnai perilakunya dalam kehidupan sehari-hari.
Jadi pembelajaran kontekstual adalah konsep belajar dimana guru menghadirkan dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, sementara siswa memperoleh pengetahuan dan ketrampilan sedikit demi sedikit dan dari proses mengkonstruksi sendiri sebagai bekal untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya sebagai anggota masyarakat.

Dalam pembelajaran kontekstual tugas guru adalah memberikan kemudahan belajar pada siswa dengan menyediakan berbagai sarana dan sumber pembelajaran yang memadai. Guru bukan hanya menyampaikan materi pembelajaran berupa hafalan tetapi mengatur lingkungan dan strategi pembelajaran. Lingkungan belajar yang kondusif sangat penting dan menunjang pembelajaran kontekstual. Hal ini senada dengan Mulyasa (2006:103) mengemukakan :

Pentingnya lingkungan belajar dalam pembelajaran kontekstual :

(1) belajar efektif itu mulai dari lingkungan belajar yang berpusat pada siswa. Dari guru akting di depan kelas, siswa menonton ke siswa aktif bekerja dan berkarya, guru mengarahkan;(2) pembelajaran harus berpusat bagaimana cara siswa menggunakan pengetahuan baru mereka. Strategi belajar lebih dipentingkan dibandingkan hasilnya;(3) umpan balik amat penting bagi siswa;(4) menumbuhkan komunitas belajar dalam bentuk kerja kelompok itu penting.

Sementara itu menurut Nurhadi (2004: 148-149)

Kunci dalam pembelajaran kontekstual adalah; (1) real word learning; (2) mengutamakan pengalaman nyata; (3) berpikir tingkat tinggi; (4) berpusat pada siswa; (5) siswa aktif, kritis dan kreatif; (6) pengetahuan bermakna dalam kehidupan;(7) pendidikan atau education bukan pengajaran atau instruction; (8) memecahkan masalah; (9) siswa akting, guru mengarahkan, bukan guru akting, siswa menonton; (10) hasil belajar di ukur dengan berbagai cara bukan hanya dengan tes.

Dengan demikian pembelajaran yang menggunakan pendekatan kontekstual memiliki ciri harus ada kerja sama, saling menunjang, gembira, belajar dengan bergairah, pembelajaran terintegrasi, menggunakan berbagai sumber, siswa aktif, menyenangkan, tidak membosankan, sharing dengan teman, siswa kritis dan guru kreatif. Proses kegiatan pembelajaran dapat lebih bermakna jika kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan berangkat dari pengalaman belajar siswa dan guru yaitu kegiatan siswa dan guru yang dilakukan secara bersama dalam situasi pengalaman nyata, baik pengalaman dalam kehidupan sehari-hari maupun pengalaman dalam lingkungan.

Prinsip Pembelajaran Contextual Teaching And Learning.

Komponen utama pembelajaran yang mendasari penerapan pembelajaran kontekstual dikelas yakni: “konstruktivisme (Construktivisme), bertanya (Questioning), menemukan (Inquiry), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling), refleksi (reflection) dan penilaian sebenarnya (Authentic Assesment)”. (Depdiknas,2002:6)

Kelas dapat dikatakan menggunakan pendekatan kontekstual jika menerapkan komponen-komponen tersebut dalam pembelajarannya (Nurhadi, 2004 : 31-51).

1) Konstuktivisme (membangun)
a) Membangun pemahaman mereka sendiri dari pengalaman baru berdasar pada pengetahuan awal.
b) Pembelajaran harus dikemas menjadi proses “mengkonstruksi” bukan menerima pengetahuan.

2) Inquiry (menemukan)
a) Proses perpindahan dari pengamatan menjadi pemahaman.
b) Siswa belajar menggunakan kemampuan berfikir kritis.

3) Questioning (bertanya)
a) Kegiatan guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berfikir siswa.
b) Bagi siswa yang merupakan bagian penting dalam pembelajaran yang berbasis inquiry.

4) Learning Community (masyarakat belajar)
a) Sekelompok orang yang terkait dalam kegiatan belajar.
b) Bekerjasama dengan orang lain lebih baik dari pada belajar sendiri.
c) Tukar pengalaman
d) Berbagi ide

5) Modelling (pemodelan)
a) Proses penampilan suatu contoh agar orang lain bisa berfikir, bekerja dan belajar.
b) Mengerjakan apa yang guru inginkan agar siswa mengerjakannya.
6) Reflection (refleksi)

a) Cara berfikir tentang apa yang kita pelajari
b) Mencatat apa yang telah dipelajari
c) Membuat jurnal, karya seni, diskusi kelompok

7) Authentic Assesment (penilaian yang sebenarnya)
a) Mengukur pengetahuan dan keterampilan siswa
b) Penilaian produk (kinerja)
c) Tugas-tugas yang relevan dan kontekstual

Konstruktivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. Inkuiri adalah proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis. Bertanya adalah menggali kemampuan, membangkitkan motivasi dan merangsang keingintahuan siswa. Pemodelan adalah proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh siswa. Refleksi adalah proses mengendapkan pengalaman yang telah dipelajari dengan cara mengurutkan kembali kejadian atau peristiwa pembelajaran yang telah dilalui. Penilaian nyata adalah proses mengumpulkan informasi tentang perkembangan belajar siswa yang diarahkan pada proses belajar bukan hasil belajar. (Sanjaya, 2006 : 118–122).

Dalam komponen konstruktivisme sebagai filosofi dapat dikembangkan pemikiran bahwa siswa akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan barunya. Dengan demikian siswa belajar sedikit demi sedikit dari konteks terbatas, siswa mengkonstruksi sendiri pemahamannya. Pemahaman yang mendalam diperoleh melalui pengalaman belajar yang bermakna. Komponen inkuiri sebagai strategi belajar dapat dilaksanakan untuk mencapai kompetensi yang diinginkan. Siklus yang terdiri dari mengamati, bertanya, menganalisis dan merumuskan teori baik perorangan maupun kelompok. Diawali dengan pengamatan, lalu berkembang untuk memahami konsep/fenomena. Dalam hal ini mengembangkan dan menggunakan ketrampilan berpikir kritis.

Komponen bertanya sebagai keahlian dasar yang dikembangkan, bertanya sebagai alat belajar mengembangkan sifat ingin tahu siswa. Mendorong siswa untuk mengetahui sesuatu, mengarahkan siswa untuk memperoleh informasi, digunakan untuk menilai kemampuan siswa berpikir kritis dan melatih siswa untuk berpikir kritis.

Komponen masyarakat belajar sebagai penciptaan lingkungan belajar yaitu menciptakan masyarakat belajar atau belajar dalam kelompok-kelompok. Dalam hal ini berbicara dan berbagi pengalaman dengan orang lain. Bekerjasama dengan orang lain untuk menciptakan pembelajaran yang lebih baik dibandingkan dengan belajar sendiri.

Komponen pemodelan, model sebagai acuan pencapaian kompetensi yaitu menunjukkan model sebagai contoh pembelajaran (benda-benda, guru, siswa lain, karya inovasi dll). Membahasakan gagasan yang dipikirkan, mendemonstrasikan bagaimana menginginkan siswa untuk belajar, dan melakukan apa yang diinginkan agar siswa melakukannya.

Komponen refleksi sebagai langkah akhir dari belajar yaitu melakukan refleksi di akhir pertemuan agar siswa merasa bahwa hari ini mereka belajar sesuatu. Dalam hal ini refleksi berarti cara-cara berpikir tentang apa yang telah dipelajari. Menelaah dan merespon terhadap kejadian, aktivitas dan pengalaman. Mencatat apa yang telah dipelajari dan merasakan ide-ide baru.

Komponen penilaian sebenarnya adalah melakukan penilaian yang sebenarnya dari berbagai sumber dan dengan berbagai cara. Dalam hal ini mengukur pengetahuan dan keterampilan siswa. Mempersyaratkan penerapan pengetahuan atau pengalaman. Tugas-tugas yang kontekstual dan relevan. Proses dan produk kedua-duanya dapat diukur.

Jadi dalam pembelajaran kontekstual berarti melaksanakan komponen-komponen atau aspek-aspek pembelajaran kontekstual, dalam hal ini guru memegang peranan penting dalam menciptakan pembelajaran yang menggairahkan atau menyenangkan sehingga guru harus kreatif memilih metode pembelajaran yang efektif dalam menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif. Dari segi proses guru dikatakan berhasil apabila mampu melibatkan sebagian besar siswa secara aktif, baik fisik, mental, maupun sosial dalam proses pembelajaran. Sedangkan dari segi hasil guru dikatakan berhasil apabila pembelajaran yang diberikan mampu mengubah perilaku sebagian besar siswa ke arah penguasaan kompetensi dasar yang lebih baik.

Langkah-langkah Model Pembelajaran Contextual Teaching And Learning.

Langkah-langkah pembelajaran CTL berpedoman pada prinsip pembelajarannya. Menurut sutardi dan sudiro (2007:106), “pembelajaran CTL meliputi empat tahapan, yaitu invitasi, eksplorasi, penjelasan dan solusi serta pengambilan tindakan”.
  1. Invitasi, siswa didorong agar mengemukakan pengetahuan awal tentang konsep yang dibahas. Bila perlu guru memancing dengan memberikan pertanyaan yang problematik tentang kehidupan sehari-hari.
  2. Eksplorasi, siswa diberi kesempatan untuk menyelidiki dan menemukan konsep melalui pengumpulan, pengorganisasian, perinterpretasian data dalam sebuah kegiatan yang telah dirancang oleh guru. Kemudian secara berkelompok siswa berdiskusi tentang masalah yang siswa bahas.
  3. Penjelasan solusi, siswa menyampaikan, membuat model dan membuat rangkuman serta ringkasan hasil pekerjaan bimbingan guru.
  4. Pengambilan tindakan, siswa dapat membuat keputusan menggunakan pengetahuan dan keterampilan, berbagai informasi dan gagasan, mengajukan pertanyaan lanjutan, mengajukan saran baik secara individu maupun secara kelompok yang berhubungan dengan pemecahan masalah.

1 Responses to “Mengenal Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) | Langkah-langkah Model Pembelajaran Contextual Teaching And Learning.”

Sell Tiket :

Tiket Pesawat Murah Online, dapatkan segera di SELL TIKET Klik disini:
selltiket.com
Booking di SELLTIKET.COM aja!!!
CEPAT,….TEPAT,….DAN HARGA TERJANGKAU!!!

Ingin usaha menjadi agen tiket pesawat??
Yang memiliki potensi penghasilan tanpa batas.
Bergabung segera di agen.selltiket.com

INFO LEBIH LANJUT HUBUNGI :
No handphone : 085365566333
PIN : D2E26405

Segera Mendaftar Sebelum Terlambat. !!!

September 21, 2016 at 1:08 AM

Post a Comment