Hakikat dan Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar

Hakikat dan Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar

Belajar matematika bagi para siswa merupakan alat untuk memahami atau menyampaikan suatu informasi misalnya melalui persamaan-persamaan, atau tabel-tabel dalam pembelajaran matematika. Belajar matematika adalah pembentukan pola piker dalam pemahaman suatu pengertian maupun penalaran dalam suatu hubungan. Matematika berasal dari bahasa Yunani atau Latin “Thanein” atau “Mathein” yang artinya belajar atau hal yang dipelajari, sedangkan dalam bahasa Belanda disebut “Wiskunde” atau ilmu pasti yang semuanya berkaitan dengan penalaran (Depdiknas, 2006: 2).

Ruseffendi (Tim MKPBM, 2001 : 18) menyatakan bahwa “Matematika terbentuk sebagai hasil pemikiran manusia yang berhubungan dengan ide, proses, dan penalaran”. Tahap awal matematika terbentuk dari pengalaman manusia dalam dunianya secara empiris, karena matematika sebagai aktifitas manusia. Kemudian pengalaman itu diproses, diolah secara analisis dan sintesis dengan penalaran di dalam pola pikir kognitif sehingga sampai pada suatu kesimpulan berupa konsep matematika.

Karso (2007 : 1.4) menyatakan bahwa “Matematika adalah ilmu yang deduktif, aksiomatik, formal, hirarkis, abstrak, bahasa simbol yang padat arti dan semacamnya”. Para ahli matematika dapat mengembangkan sebuah sistem matematika. Mengingat adanya perbedaan karakteristik, maka diperlukan adanya kemampuan khusus dari seorang guru untuk menjembatani antara dunia siswa yang belum berpikir secara deduktif untuk dapat mengerti dunia matematika yang bersifat deduktif.

Secara etimologis, Elea Tinggih (Tim MKPBM, 2001 : 18) menyatakan bahwa “Perkataan matematika berarti ilmu pengetahuan yang diperoleh dengan bernalar”. Hal ini dimaksudkan bukan berarti ilmu lain diperoleh tidak melalui penalaran, akan tetapi dalam matematika lebih menekankan dalam aktifitas dunia rasio (penalaran). Sedangkan dalam ilmu lain lebih menekankan hasil observasi atau eksperimen disamping penalaran.

Dari beberapa pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa matematika adalah salah satu ilmu yang menekanakan pada penalaran manusia yang terbentuk dari suatu pengalaman yang melibatkan aktifitas manusia. Terkait dengan pembelajaran matematika, banyak kecendrungan baru yang tumbuh dan berkembang di banyak negara, sebagai inovasi dan reformasi model pembelajaran yang diharapkan sesuai dengan tantangan sekarang dan mendatang.

“Beberapa model matematika di antaranya : Pembelajaran Kontekstual, Pembelajaran Kooperatif, Pendidikan Matematika Realistik (RME), Pemecahan Masalah, Investigasi Matematika, Asas Penemuan, Open-Ended (Multiple Solutions, multiple method solution), Penggunaan Materi, Pemetaan Konsep, Belajar dan Pembelajaran, dan Penulisan Matematika (Gatot, 2009 : 12)”.

Sebagai pengetahuan, matematika mempunyai ciri-ciri khusus antara lain abstark, deduktif, konsisten, hierarkis, dan logis. Soedjadi (dalam Gatot, 2009 : 12) menyatakan bahwa “Keabstrakan matematika karena objek dasarnya abstrak, yaitu fakta konsep, operasi, dan prinsip”. Ciri keabstrakan matematika beserta dengan ciri yang lainnya yang tidak sederhana, menyebabkan matematika tidak mudah untuk dipelajari, sehingga banyak siswa yang kurang tertarik terhadap matematika.

Pencarian dan pemilihan model pembelajaran matematika perlu berorientasi pada perkembangan teknologi mutakhir di dunia. Model pembelajaran matematika yang berkembang didasarkan pada teori-teori belajar. Hakikat dari teori belajar yang sesuai dengan pembelajaran matematika perlu dipahami sungguh-sungguh sehingga tidak keliru dalam menerapkannya. Seoarang guru matematika yang professional dan kompeten mempunyai wawasan landasan yang dapat dipakai dalam perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran matematika. Wawasan itu berupa dasar-dasar teori belajar yang diterapkan untuk pengembangan atau perbaikan pembelajaran matematika.

Dalam pelaksanaan pembelajaran matematika yang merupakan ilmu deduktif dan abstrak, sedangkan perkembangan kognitif siswa yang cenderung masih konkrit dan induktif, maka hal ini harus disesuaikan dengan penggunaan strategi serta model dan media yang relevan untuk mengajarkan matematika, agar materi yang disampaikan dapat dipahami oleh siswa. Seorang guru harus dapat mengurangi sifat abstrak dari objek matematika itu sehingga pada akhirnya akan memudahkan siswa memahami pelajaran matematika yang diajarkan. Kemudian pembelajaran matematika juga perlu memperhatikan situasi dan kondisi perkembangan siswa sehingga akan memudahkan dalam prose pembelajaran.

Pembelajaran matematika di Sekolah Dasar bertujuan untuk mempersiapkan siswa agar sanggup menghadapi perubahan-perubahan di dalam kehidupan dan dunia yang sedang berkembang.

Mata pelajaran matematika di Sekolah Dasar diberikan kepada siswa dengan tujuan agar siswa memiliki kemampuan berpikir logis, analisis, sistematis, kritis dan kreatif serta kemampuan bekerja sama. Selain itu kurikulum 2006 menjelaskan bahwa pembelajaran matematika di Sekolah Dasar ditujukan pula agar siswa memiliki kemampuan memperoleh, mengelola dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah-ubah tidak pasti dan kompetitif (Depdiknas, 2006 : 109)”.

Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar matematika dalam kurikulum disusun sebagai landasan pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan tersebut. Selain itu untuk mengembangkan kemampuan menggunakan matematika dalam pemecahan masalah dan mengkomunikasikan ide atau gagasan dapat digunakan simbol, tabel, diagaram, dan media lainnya. Untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah perlu dikembangkan kemampuan memecahkan masalah, menyelesaikan masalah, dan menafsirkan solusinya.

Pembelajaran matematika di Sekolah Dasar merupakan salah satu kajian yang selalu menarik untuk dikemukakan karena adanya perbedaan karakteristik khususnya antara hakikat anak/siswa dengan hakikat matematika. Matematika bagi siswa SD berguna untuk kepentingan hidup dalam lingkungannya, untuk mengembangkan pola pikirnya, dan untuk mempelajari ilmu-ilmu yang lainnya. Kegunaan atau manfaat matematika bagi siswa SD adalah sesuatu yang jelas yang tidak perlu dipersoalkan lagi, lebih-lebih pada era pengembangan ilmu pengetahuan dewasa ini.

Menurut Karso (2007, 1.4) “Hakikat anak didik dalam pembelajaran matematika di Sekolah Dasar adalah :
1. Anak dalam pembelajaran matematika di SD.
2. Anak sebagai individu yang berkembang.
3. Kesiapan intelektual anak.

Ruseffendi (Tim MKPBM, 2001 : 24) menyatakan bahwa “Setiap konsep yang abstrak dalam matematika yang baru dipahami segera diberi penguatan supaya mengendap, melekat dan tahan lam tertanam dalam diri anak sehingga menjadi miliknya dalam pola pikir maupun tindakannya. Untuk itu maka perlu belajar melalui perbuatan dan pengertian, tidak hanya sekedar hapalan dan mengingat fakta saja yang tentunya akan mudah dilupakan dan sulit untuk dimiliki siswa”.

Dalam setiap pembelajaran matematika hendaknya dimulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi (contextual problem). Dengan mengajukan masalah kontekstual secara bertahap dibimbing untuk menguasai konsep matematika. Untuk meningkatkan keaktifan pembelajaran maka dituntut untuk menggunakan alat atau media pembelajaran yang dapat membantu proses dan keberhasilan pembelajaran. Selain itu, dalam pembelajaran matematika juga dituntut menerapkan sebuah model dan metode pembelajaran yang tepat, sehingga pada akhirnya pembelajaran matematika dapat diserap dengan baik oleh siswa. Begitu juga dengan pembelajaran pada materi operasi hitung penjumlahan bilangan bulat, seorang guru harus bisa menggunakan media pembelajaran yang tepat dan efektif.

Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran matematika di Sekolah Dasar (SD) adalah ilmu yang sangat penting dan berguna untuk diberikan kepada siswa untuk masa depan hidupnya agar siswa mampu memaksimalkan potensi yang ada dalam dirinya.

0 Responses to “Hakikat dan Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar ”

Post a Comment