CONTOH LAPORAN INDIVIDUAL PROGRAM PENGALAMAN LAPANGAN ( PPL )


BAB I
MASALAH-MASALAH YANG DIALAMI SELAMA PELAKSANAAN
PROGRAM LATIHAN PROFESI (PLP)
                                                                                                 
Sistem pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Bertolak pada tujuan sistem pendidikan nasional tersebut yaitu untuk mengembangkan potensi peserta didik, hal ini tidak terlepas dari peran guru sebagai pendidik. Dalam bidang pendidikan guru merupakan salah satu unsur penting yang harus ada karena peran dan tanggung jawab guru sangat menentukan dalam pencapaian keberhasilan penyelengggaraan pendidikan nasional.
Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) merupakan perguruan tinggi yang ruang lingkupnya pada bidang kependidikan berupaya untuk membekali mahasiswanya dengan berbagai ilmu pengetahuan dan pengalaman sesuai dengan jurusannya. Pemberian ilmu pengetahuan tersebut tidak hanya diperoleh dari bangku perkuliahan saja tetapi juga bekal pengalaman yang diperoleh melalui Program Latihan Profesi (PLP). PLP merupakan langkah konkret  bagi mahasiswa dalam melaksanakan dan membandingkan antara ilmu yang diperolehnya dengan keadaan lapangan.
PLP Kependidikan bertujuan agar para mahasiswa (praktikan) mendapatkan pengalaman pendidikan secara faktual di lapangan, sebagai wahana terbentuknya tenaga kependidikan yang profesional. Pengalaman yang dimaksud meliputi pengetahuan, sikap, dan keterampilan dalam profesi sebagai pendidik, serta mampu menerapkannya dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran, baik di sekolah maupun di luar sekolah dengan penuh tanggung jawab.
Dalam usaha mengaktualisasikan tujuan tersebut, tidak terlepas dari masalah-masalah yang dihadapi. Adapun berbagai permasalahan yang dialami dan dirasakan oleh praktikan selama melakukan PLP di SMP Negeri 15 Bandung baik dalam penyusunan rencana pembelajaran, dalam penampilan, proses bimbingan maupun kegiatan lainnya yang menyangkut PLP adalah sebagai berikut:
 
A.    Penyusunan Rencana Pengajaran
Belajar tidak hanya meliputi mata pelajaran, tetapi juga penguasaan, kebiasaan, persepsi, kesenangan, minat, penyesuaian sosial, bermacam-macam keterampilan dan cita-cita.
Belajar mengandung pengertian terjadinya perubahan dari persepsi dan perilaku. Perubahan tersebut akan terjadi ketika adanya interaksi atau hubungan timbal balik antara guru (pengajar) dan anak (murid) yang bersifat edukatif (mendidik). Untuk mencapai suasana edukatif ini seorang pengajar harus mempunyai keterampilan teknis dalam mengajar, salah satunya keterampilan merencanakan pengajaran.
Rencana Pengajaran atau Rencana Pembelajaran adalah suatu pegangan yang akan mengarahkan seorang pengajar pada penampilannya di kelas, yang menjadi pedoman seorang guru baik sebelum maupun saat melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Jadi dapat dikatakan bahwa kesuksesan guru dalam merencanakan pengajaran, secara tidak langsung  dapat menggambarkan kesuksesan guru dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Ketika menyusun rencana pengajaran, praktikan mengalami beberapa hambatan terutama mengenai:
·    Sulit dalam menentukan alokasi waktu pembelajaran
Untuk setiap proses belajar mengajar, praktikan merasa kesulitan dalam menentukan alokasi waktu yang tepat. Dari beberapa pengalaman praktikan mengajar, skenario pembelajaran yang telah disusun terkadang tidak dapat tersampaikan sesuai dengan alokasi waktu yang telah ditetapkan sebelumnya.
·    Sulit dalam menentukan metode mengajar yang tepat dan menarik
Praktikan merasa kesulitan ketika memilih metode mengajar yang tepat dan menarik untuk materi seni musik tertentu. Misalnya : Karena seni musik adalah bunyi, maka tempat terkadang menjadi permasalahan, untuk itu mohon disediakan khusus kelas / ruangan untuk seni musik supaya kegiatan pembelajaran di kelas lain tidak terganggu. Selain itu praktikan merasa kesulitan dalam menentukan metode mengajar yang menarik untuk materi seni musik tertentu. Terkadang beberapa siswa tidak memperhatikan materi yang disampaikan oleh guru dan membuat suasana kelas menjadi tidak kondusif  untuk belajar.

B.     Proses Penampilan
Penampilan praktikan merupakan kegiatan inti dari PLP karena hal ini merupakan bentuk riil dari proses sharring ataupun proses transfer pengetahuan dan keterampilan kepada peserta didik.
Dalam kegiatan PLP di SMP Negeri 15 Bandung, praktikan diberi kesempatan mengajar di empat kelas yaitu kelas VIII F, dan VIII H. Pada awalnya ada kekhawatiran disertai dengan perasaan grogi dan was-was ketika melihat siswa dengan jumlah sekitar ± 43 orang perkelas mengingat kegiatan mengajar di sekolah merupakan hal yang baru / pertama kali dialami oleh praktikan. Tapi lama kelamaan praktikan menjadi terbiasa berhadapan dengan siswa walaupun tidak menutup kemungkinan untuk timbulnya masalah yang dialami praktikan selama kegiatan belajar mengajar di kelas, diantaranya :
·    Praktikan merasa kesulitan dalam hal pengelolaan kelas karena karakter siswa yang beragam dan terkadang menyulitkan praktikan untuk menghadapinya.
·    Kesulitan dalam memberikan motivasi agar siswa mau belajar serta sulit untuk menarik perhatian agar siswa tetap berkonsentrasi terhadap materi yang sedang disampaikan.
·    Kesulitan dalam memberikan hukuman yang mendidik bagi siswa yang melakukan perbuatan salah dan memberikan ganjaran kepada siswa yang melakukan perbuatan yang terpuji.  
·    Kesulitan dalam menangani kelas yang ribut dan gaduh sehingga KBM menjadi kurang kondusif dan suara praktikan harus lebih keras agar terdengar oleh siswa.

C.    Bimbingan Belajar
Dalam interaksi belajar mengajar tugas guru tidaklah terbatas pada sekedar menyampaikan materi kepada anak, akan tetapi lebih dari itu adalah, bahwa seorang guru harus berusaha membimbing anak didiknya. Kesulitan-kesulitan dan hambatan siswa dalam belajar hendaklah merupakan tantangan bagi guru untuk berusaha membantu memecahkannya.
Bimbingan yang diberikan kepada siswa hendaknya menyangkut semua masalah siswa yang meliputi masalah di sekolah, di dalam keluarga dan masalah di dalam kehidupan di masyarakat yang semuanya itu akan mempengaruhi proses belajar anak.
Selama PLP, praktikan berusaha untuk melakukan bimbingan tersebut walaupun sangat tidak optimal karena keterbatasan waktu. Selain itu untuk bimbingan ini sudah dilakukan sepenuhnya oleh pihak sekolah dengan adanya Layanan Bimbingan dan Konseling.
Praktikan juga memberikan kontribusi lain diluar jam mengajar yaitu melakukan bimbingan belajar pada beberapa siswa yang belum memahami materi pelajaran yang telah disampaikan.Namun sayangnya kegiatan bimbingan belajar ini tidak dapat berjalan dengan lancar karena keterbatasan dan ketidaksesuaian waktu yang dimiliki praktikan dan siswa selama berada di sekolah.

D.    Partisipasi dalam Kehidupan Sekolah
Selama melakukan kegiatan PLP di SMP Negeri 15 Bandung ini, selain melakukan kegiatan mengajar sebagai salah satu kegiatan utama PLP, praktikan juga mengikuti beberapa kegiatan rutin yang ada di sekolah, diantaranya :
·    Kegiatan Upacara Bendera
Kegiatan upacara bendera yang rutin seminggu sekali dilaksanakan setiap senin pagi tidak menjadi permasalahan bagi  praktikan dan selalu berusaha untuk datang pagi. 
·    Kegiatan Piket
Kegiatan piket yang ada di SMP Negeri 15 Bandung yaitu piket harian (KBM) yang setiap harinya memiliki penanggung jawab piket yang dipegang oleh guru. Dalam piket harian, seminggu dua kali praktikan rutin untuk melaksanakannya, yaitu setiap hari Rabu pagi dan Rabu siang. Piket harian ini tidak menjadi permasalahan yang berarti bagi praktikan karena praktikan selalu berusaha untuk datang dan melaksanakan piket sesuai dengan tugas-tugas yang ditentukan. Tugas dari piket harian ini secara keseluruhan bertanggung jawab dalam pelaksanaan kegiatan KBM agar berjalan dengan lancar. Selain itu ada tugas lainnya yaitu:
a.       Membunyikan bel untuk menandakan waktu masuk sekolah, pulang sekolah ataupun pergantian jam pelajaran,
b.      Mencatat siswa-siswi yang melanggar peraturan seperti datang terlambat atau menggunakan atribut sekolah yang tidak sesuai dengan peraturan,
c.       Melayani siswa-siswi yang hendak ijin keluar pada saat jam pelajaran atas sepengetahuan dan seizin penanggung jawab piket yang bersangkutan,
d.      Melayani jika ada tamu yang berkepentingan dengan pihak sekolah atau siswa,
e.       Menyampaikan tugas yang diberikan guru ke kelas dari guru yang berhalangan hadir,
f.       Menyampaikan surat keterangan anak yang tidak masuk sekolah ke kelasnya.
Disamping kegiatan rutin diatas, ada pula kegiatan yang bersifat insidental yang praktikan lakukan selama PLP di SMP Negeri 15 Bandung, diantaranya :
·    Turut berpartisipasi dalam pelaksanaan eksta kurikuler paduan suara.

E.     Proses Bimbingan
1.   Dengan Dosen Luar Biasa PLP
Dalam pelaksanaan PLP di SMP Negeri 15 Bandung selalu dilakukan bimbingan oleh dosen luar biasa PLP, secara langsung ataupun tidak langsung. Waktu konsultasi dan bimbingan tersedia cukup banyak sehingga frekuensi dari bimbingan dilaksanakan baik dalam situasi formal maupun non-formal.
Selama kegiatan PLP berlangsung, bimbingan yang praktikan terima dari Dosen Luar Biasa sangat banyak berupa :
a.       Langkah-langkah dan cara yang benar dan tepat dalam penyusunan silabus dan rencana pembelajaran.
b.      Apersepsi yang diberikan sebelum proses pembelajaran.
c.       Alokasi waktu yang harus betul-betul diperhatikan dan digunakan dengan efektif.
d.      Penguasaan kelas.
e.       Memberikan trik-trik bagaimana cara memfokuskan perhatian siswa.
f.       Pengarahan untuk penampilan selanjutnya berdasarkan penampilan yang telah dilakukan.
g.      Persiapan dalam menghadapi ujian PLP.
2.   Dengan Dosen Tetap PLP
Proses bimbingan dengan dosen tetap PLP terkadang mengalami kesulitan. Hal ini berhubungan dengan jadwal paktikan dan jadwal dosen pembimbing yang terkadang tidak sinkron, sehingga proses bimbingan lebih banyak dengan dosen luar biasa karena praktikan lebih banyak bertatap muka secara langsung dengan dosen luar biasa. Adapun hal-hal yang dibicarakan dalam bimbingan dengan dosen tetap yaitu:
a.    Masalah yang dihadapi saat berada di sekolah.
b.    Konsultasi mengenai persiapan ujian.
3.   Dengan Supervisor
Supervisor adalah pengontrol utama dalam berlangsungnya kegiatan PLP yang ditugaskan oleh pihak UPT PLP UPI Bandung untuk mengontrol setiap kegiatan yang berhubungan dengan PLP. proses bimbingan dengan supervisor dapat dikatakan merupakan bimbingan yang tidak pernah dilakukan. Namun hal ini tidak menjadi masalah bagi praktikan karena praktikan merasa bimbingan dengan dosen tetap dan dosen luar biasa sudah mencukupi untuk memecahkan masalah-masalah yang dialami selama praktek di lapangan.

                                      BAB II
FAKTOR PENYEBAB DARI MASALAH YANG DIALAMI

Pada bagian ini praktikan akan menguraikan beberapa faktor  berkaitan dengan masalah yang telah dipaparkan pada bab I. Adapun faktor penyebab dari masalah yang dialami praktikan selama menjalani PLP di SMP Negeri 15 Bandung adalah sebagai berikut :
A.    Penyusunan Rencana Pengajaran
Seperti yang telah praktikan kemukakan sebelumnya pada bab I, dalam penyusunan rencana pengajaran terdapat beberapa kendala diantaranya kesulitan dalam menentukan alokasi waktu pembelajaran. Hal ini disebabkan siswa agak lambat dalam menangkap materi yang telah disampaikan sehingga praktikan perlu mengulang-ulang materi atau soal-soal yang diberikan. 
Kendala lain yang dihadapi praktikan yaitu kesulitan dalam menentukan metode mengajar yang tepat dan menarik untuk menyampaikan materi tertentu. Hal ini disebabkan kurangnya konsultasi praktikan dengan dosen tetap PLP.
B. Proses Penampilan
Berkaitan dengan masalah penampilan  mengajar di kelas yaitu kesulitan dalam hal pengelolaan kelas, beberapa faktor penyebab yang muncul antara lain :
·    Praktikan grogi ketika memasuki kelas untuk pertama kalinya disebabkan masih kurangnya pengalaman praktikan dalam mengajar.
·    Praktikan kurang menguasai psikologi siswa SMP dalam menerima pelajaran seni musik sehingga menyulitkan siswa dalam menangkap pelajaran.
·    Praktikan belum mengenal suasana kelas dan karakter setiap siswa.
Kesulitan yang kedua berkaitan dengan masalah penampilan mengajar di kelas yaitu kesulitan dalam memberikan motivasi agar siswa mau belajar. Hal ini disebabkan karena adanya rasa jenuh yang dialami siswa dan kurang menariknya penyampaian materi oleh praktikan menjadi salah satu faktor pemicu kurang kondusifnya suasana pembelajaran.
  
B.     Bimbingan Belajar
Selain mengajar, kegiatan lain yang dilakukan praktikan selama PLP di SMP Negeri 15 Bandung yaitu kegiatan bimbingan belajar. Faktor penyebab kurangnya partisipasi praktikan dalam kegiatan bimbingan belajar yaitu karena praktikan memiliki kegiatan lain yang harus dilaksanakan. Selain itu juga praktikan memiliki keterbatasan waktu dan sulit membagi waktu antara tugas-tugas KBM dengan kegiatan bimbingan belajar.

C.    Partisipasi dalam Kehidupan Sekolah
Dalam hal partisipasi praktikan mengikuti kegiatan-kegiatan rutin dan insidental di sekolah, kurangnya komunikasi antara praktikan dengan pihak sekolah merupakan salah satu faktor penyebab kurang lancarnya tugas yang dilakukan oleh praktikan terutama untuk kegiatan-kegiatan yang sifatnya insidental.

D.    Proses Bimbingan
Proses bimbingan dengan dosen luar biasa tidak menjadi masalah karena praktikan selalu bertemu dengan beliau, setiap kali praktikan mengajar di sekolah. Namun yang menjadi masalah adalah bimbingan dengan dosen tetap PLP dan supervisor PLP. Hal ini disebabkan karena kesibukan dosen tetap dan supervisor sebagai staf pengajar di UPI yang juga memerlukan waktu tanggung jawab yang tidak sedikit serta pihak praktikan sendiri yang mempunyai kesibukan lainnya.
 
BAB III
UPAYA PENANGGULANGAN MASALAH

Pada bagian ini praktikan menguraikan upaya penanggulangan masalah selama praktikan melaksanakan PLP di SMP Negeri 15 Bandung terkait dengan permasalahan dan faktor penyebab permasalahan  yang telah dipaparkan pada bab sebelumnya, diantaranya :
A.    Penyusunan Rencana Pengajaran
Pada bab sebelumnya telah dipaparkan beberapa masalah dan  faktor penyebab masalah yang  dihadapi praktikan dalam penyusunan silabus dan skenario pembelajaran. Beberapa upaya yang dilakukan untuk mengatasi masalah penyusunan silabus dan skenario pembelajaran diantaranya :
·    Untuk mengatasi masalah kesulitan dalam menentukan alokasi waktu pembelajaran yang disebabkan karena lambatnya siswa dalam memahami materi pelajaran serta banyaknya libur sekolah yang tidak sesuai dengan kalender akademik yang telah ditetapkan, praktikan sering kali melakukan konsultasi dan bimbingan dengan dosen luar biasa. Melalui bimbingan tersebut praktikan memperoleh banyak masukan dan informasi yang berguna bagi perbaikan dalam menyusun silabus dan skenario pembelajaran. Banyak faktor yang dapat memicu siswa lambat dalam memahami pelajaran salah satunya adalah cara mengajar praktikan yang mungkin sulit dipahami oleh siswa. Untuk mengatasi masalah tersebut disamping praktikan berkonsultasi dengan dosen luar biasa, praktikan juga melakukan instropeksi diri dengan mempelajari kembali buku panduan SBM dan MPM yang telah praktikan peroleh pada perkuliahan sebelumnya.
·    Untuk mengatasi masalah kesulitan dalam menentukan metode mengajar yang tepat dan menarik yang disebabkan keterbatasan peralatan praktikum yang dimiliki sekolah, upaya yang dilakukan praktikan adalah mengganti metode praktikum dengan metode demonstrasi yang sebelumnya telah praktikan konsultasikan dengan dosen luar biasa. Disamping upaya diatas, praktikan juga mempelajari kembali buku panduan Strategi Belajar Mengajar untuk mengetahui pendekatan dan metode yang tepat dalam menyampaikan materi sehingga praktikan dapat menyusun silabus dan skenario pembelajaran yang baik.

B.     Proses Penampilan
Beberapa upaya yang telah praktikan lakukan untuk mengatasi masalah yang berkaitan dengan proses penampilan, diantaranya :
·    Untuk mengatasi kesulitan dalam pengelolaan kelas yang disebabkan kurangnya pengalaman praktikan dalam mengajar, upaya yang dilakukan adalah mengadakan pembelajaran di kelas dengan didampingi oleh dosen luar biasa dan rekan PLP mata pelajaran seni musik. Melalui kegiatan ini praktikan memperoleh banyak informasi dan masukan mengenai penampilan praktikan di depan kelas sehingga praktikan dapat mengadakan perbaikan-perbaikan dalam mengajar berdasarkan arahan dan masukan dari dosen luar biasa dan rekan PLP seni musik.
·    Untuk mengatasi masalah praktikan yang belum mengenal suasana kelas dan karakter setisp siswa, upaya yang dilakukan adalah dengan berusaha mengenal suasana kelas yang sedang melaksanakan kegiatan pembelajaran serta berusaha menghapal nama-nama siswa di kelas agar lebih komunikatif ketika belajar dengan siswa atau pun  pendekatan diluar jam pelajaran.
·    Untuk mengatasi masalah kurangnya praktikan dalam menguasai psikologi siswa SMP dalam menerima pelajaran, upaya yang praktikan lakukan adalah berusaha mempelajari psikologi siswa dengan membaca kembali materi perkuliahan Psikologi Pendidikan yang telah praktikan peroleh di semester satu.
·    Untuk mengatasi kesulitan dalam memberikan motivasi agar siswa mau belajar yang disebabkan kurang menariknya penyampaian materi oleh praktikan, upaya yang praktikan lakukan adalah sering berkonsultasi dengan dosen luar biasa serta mempersiapkan rencana pembelajaran seoptimal mungkin agar pembelajaran sesuai dengan yang diharapkan.
·    Untuk mengatasi masalah kurang kondusifnya suasana lingkungan kelas yang diakibatkan aktifitas kelas lain ketika dikelasnya tak ada guru,, upaya yang dilakukan praktikan adalah berusaha memperhatikan kondisi siswa dan meminta siswa tenang selama pelajaran berlangsung serta praktikan berusaha menjelaskan materi dengan suara yang keras untuk memicu siswa agar berkonsentrasi terhadap materi yang sedang disampaikan.

C.    Bimbingan Belajar
Dalam mengatasi masalah ini praktikan berusaha mencari waktu luang agar dapat melaksanakan kegiatan bimbingan belajar dengan rutin. Disamping itu praktikan berupaya memberikan motivasi kepada beberapa siswa agar mengalami perubahan sikap yang lebih baik diantaranya dengan menuliskan cara pengerjaan yang benar pada ulangan siswa jika lembar ulangan itu dikembalikan lagi kepada siswa. Praktikan juga selalu menyempatkan waktu dan berdiskusi dengan beberapa siswa yang ingin menanyakan materi pelajaran yang kurang dipahami ketika proses pembelajaran berlangsung.

D.    Partisipasi dalam Kehidupan Sekolah
Salah satu cara yang dilakukan untuk mengatasi kesulitan berpartisipasi dalam kehidupan sekolah yaitu dengan seringnya praktikan menjalankan kegiatan di sekolah serta berusaha untuk mengenal dan berkomunikasi dengan pihak sekolah, minimal mengetahui nama dan jabatan seluruh staf sekolah. Selain itu praktikan selalu berusaha untuk konsisten dalam melaksanakan tugas dan berusaha semaksimal mungkin membantu apa yang diperlukan oleh pihak sekolah seperti persiapan ujian praktek serta penyusunan soal UTS.

E.     Proses Bimbingan
Untuk mengatasi masalah proses bimbingan, praktikan berusaha menghubungi dosen tetap PLP melalui telepon dan membuat janji dengan beliau untuk mengadakan bimbingan di kampus pada waktu yang telah disepakati bersama. Sedangkan untuk bimbingan dengan supervisor dilakukan oleh Ketua Kelompok PLP di SMP Negeri 15 Bandung.



BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

A.    Kesimpulan
            Program Latihan Profesi (PLP) merupakan wahana bagi mahasiswa UPI untuk dapat mengaplikasikan secara langsung ilmu pengetahuan yang diperoleh selama di bangku perkuliahan mengenai berbagai teori dan permasalahan pendidikan. Kegiatan PLP ini berguna bagi profesionalisme seorang guru karena dapat mengetahui hal-hal yang dibutuhkan untuk dapat menjadi seorang guru yang menguasai berbagai metode pengajaran. Kegiatan PLP ini sangat memberikan manfaat yang besar dan nyata bagi seorang guru seni musik, khususnya bagi praktikan. Selain itu kegiatan PLP ini berguna sebagai ajang pembelajaran sebelum menekuni profesi sebagai seorang guru seni musik. Melalui kegiatan PLP ini praktikan dapat menerapkan berbagai keterampilan dasar kependidikan secara utuh dan terpadu dalam situasi yang sebenarnya serta praktikan dapat belajar untuk berinteraksi, menyesuaikan diri dan berkomunikasi dengan orang-orang yang terlibat dalam dunia pendidikan

B.     Saran
Setelah melaksanakan kegiatan PLP, ada beberapa saran yang ingin praktikan sampaikan diantaranya:
1.      Untuk Praktikan
Ketika hendak melakukan PLP seorang praktikan harus membangkitkan kompetensi dasar yang dimiliki yakni :
o   Mempunyai pengetahuan tentang belajar dan tingkah laku manusia dan mampu menterjemahkan teori-teori itu kedalam situasi yang riil dalam belajar mengajar.
o   Mempunyai sikap yang tepat terhadap diri sendiri, siswa, teman sejawat, sekolah dan bidang studi yang dibina.
o   Menguasai bidang studi yang diajarkan.
o   Mempunyai keterampilan teknis dalam mengajar, antara lain keterampilan merencanakan pelajaran, bertanya, menilai pencapaian siswa menggunakan strategi belajar mengajar, mengelola kelas dan memotivasi siswa.
2.      Untuk Pihak Sekolah
o   Lebih mempertegas lagi tugas dan wewenang para praktikan.
o   Mengarahkan kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan oleh praktikan.
3.      Untuk Pihak Universitas / UPT PLP
o   Mengontrol keberadaan para praktikan di sekolah.
o   Mengontrol keberadaan Dosen Luar Biasa dan Dosen Tetap PLP
o   UPT PLP hendaknya mengadakan peningkatan koordinasi dengan pihak sekolah serta melakukan pemantauan dan pengawasan pelaksanaan PLP secara intensif sebagai upaya penyempurnaan kegiatan PLP mendatang.

0 Responses to “CONTOH LAPORAN INDIVIDUAL PROGRAM PENGALAMAN LAPANGAN ( PPL )”

Post a Comment