MAKALAH APLIKASI TEORI BELAJAR DALAM PEMBELAJARAN


A.    Aplikasi teori belajar Behavioristik
Aplikasi teori belajar behavioristik dalam model belajar mengajar menunjukkan bahwa perbedaan individual akan mempengaruhi keputusan-keputusan metodologi guru. Prinsip-prinsip “operant conditioning” dan analisa tugas terlaksana dengan berhasil pada berbagai ragam murid diberbagai situasi belajar. analisa tugas berguna untuk perencanaan program pendidikan individual sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan khusus murid. Belajar tuntas menggunakan analisa tugas untuk mengembangkan kurikulum yang menjamin tingkat keberhasilan yang tinggi. Untuk itu, dalam mengadakan analisa tugas, guru harus mengetahui tujuan instruksional. Agar proses belajar mengajar mencapai keberhasilan, maka modifikasi tingkah laku dapat digunakan oleh guru untuk pengelolaan kelas. Karena memberikan prinsip-prinsip kelakuan guru yang efektif. 

Prosedur-prosedur pengembangan tingkah laku 
Reinforcement dan punishment merupakan teknik utama untuk memperkuat tingkah laku, kemudian dikembangkan lagi menjadi dua metode lain yang penting untuk mengembangkan pola tingkah laku baru yakni shaping dan modelling. Shaping adalah mengajarkan keterampilan atau prilaku dengan memberikan reinforcement dalam mendekati prilaku akhir yang diinginkan, misalnya datang tepat waktu disekolah atau mengaktifkan siswa mengerjakan PR. Sedangkan modelling adalah melihat atau menirukan contoh prilaku orang lain. Modelling bisa diterapkan di MI dengan mengambil guru maupun orang lain atau anak lain yang sebaya sebagai model dari suatu tingkah laku, misalnya pelajaran Akidah Akhlak, Qur’an Hadits, Bahasa Arab, Bahasa Inggris, atau yang berkaitan dengan pengajaran keterampilan motorik dan akademis. Peran modelling dalam perspektif gender akan mampu mempengaruhi mainseet dan prilaku siswa-siswi kearah kesetaraan dan keadilan gender serta ramah pada perbedaan.
Prosedur-prosedur pengendalian atau perbaikan tingkah laku dapat dilakukan dengan cara:
1.      Memperkuat tingkah laku bersaing
2.      Ekstingsi yaitu penghilang reinforcement
3.      Satiasi yaitu mengulang-ngulang prilaku sehingga ia menjadi lelah atau jera.
4.      Perubahan lingkungan stimuli
5.      Hukuman yang bijaksana


Aplikasi dalam pembelajaran
Pengajaran terprogram
Pengajaran terprogram menerapkan prinsip-prinsip “operant conditioning” yang berusaha memajukan belajar dengan:
  1. Memerinci bahan pelajaran menjadi unit-unit kecil
  2. Memaksa murid untuk mereaksi unit-unit kecil itu
  3. Memberitahukan hasil belajar secara langsung
  4. Memberi kesempatan untuk bekerja sendiri
 Program pengajaran individual
Prinsip-prinsip pengajaran terprogram telah diterapkan pula dalam program-program pengajaran individual.program pengajaran individual disusun dalam bentuk unit-unit belajar mengajar dengan rumusan tujuan, bahan pelajaran, dan cara-cara untuk mencapai tujuan pembelajaran. Tiap-tiap unit belajar mengajar dimulai dengan tujuan belajar yang akan dicapai, baru kemudian aktivitas belajarnya. Aktivitas belajar terdiri atas bahan-bahan pelajaran, pertanyaan tes, dan pertanyaan-pertanyaan diskusi. Jika siswa atau siswi dapat menyelesaikan tes-tes dengan baik, ia melanjutkan belajar pada unit-unit berikutnya. Jika ia gagal ia hendaknya berkonsultasi dengan guru. Dalam hal ini, bisa dicontohkan home schooling seperti marak diminati masyarakat saat ini.
Analisis Tugas
Komonen-komponen pengajaran yang penting menurut pandangan behaviorisme adalah kebutuhan akan analisis tugas yaitu:
1.      Merumuskan tugas atau tujuan belajar secara behavioral
2.      Membagi “task” menjadi “subtasks”
3.      Menentukan hubungan dengan aturan logis antara “subtasks”
4.      Menetapkan bahan dan prosedur pengajaran tiap-tiap “subtasks”
5.      Memberi feedback pada setiap penyelesaian “subtasks” atau tujuan-tujuan tiap kompetensi dasar.
Dalam pembelajaran di MI, setiap guru berusaha untuk mendeskripsikan kemungkinan keterampilan-keterampilan yang telah dikuasai oleh para siswa-siswi secara individual. Untuk selanjutnya guru menentukan tugas-tugas yang harus dikuasai siswa sebagai pemenuhan terhadap kompetensi dasar. Dari kompetensi-kompetensi dasar yang telah dipenuhi siswa-siswi, maka guru menganalisa sampai sejauh mana standar kompetensi telah dikuasai.
Pendekatan Belajar Tuntas
Bloom mengemukakan penguasaan belajar sekitar 90% dari apa yang telah diajarkan oleh guru kepada mereka. Berikut ini sebuah outline strategi belajar tuntas menurut Bloom:
1.      Pelajaran terbagi atas unit-unit kecil untuk satu atau dua minggu
2.      Bagi masing-masing unit, tujuan instruksional dirumuskan dengan jelas
3.      Learning task dalam masing-masing unit diajarkan dengan pengajaran kelompok reguler
4.      Pada tiap-tiap akhir unit belajar diselenggarakan tes-tes diagnostik (formative test) untuk menentukan siswa-siswi telah menguasai unit belajar, jika belum maka segera menentukan apa yang masih harus dikerjakan oleh siswa-siswi.
5.      Untuk mengatasi kelemahan belajar, dapat dipakai prosedur: bekerja dalam kelomok kecil, membaca kembali bagian-bagian tertentu, menggunakan bahan terprogram dan audiovisual aids, serta penambahan waktu belajar. setelah itu ia dapat mengikuti retesting.
6.      Bilamana unit-unit telah terselesaikan, suatu tes akhir (Sumative test) dapat diselenggarakan untuk menentukan nilai pelajaran pada siswa/ siswi.

B.     Aplikasi teori belajar kognitif
Teori Piaget menjelaskan hubungan antara perbedaan individual, tujuan instruksional, prinsip belajar, dan metode mengajar. Berkaitan dengan perkembangan kognitif anak, ada dua pendekatan tentang readiness, yaitu tingkat perkembangan fungsi-fungsi kognitif dan pengetahuan anak pada mata pelajaran. Dua pendekatann itu akan memberikan pemahaman tentang perencanaan pendidikan yang tepat. Metode belajar discovery dan reception memberikan tambahan pengertian tentang cara-cara untuk mencapai tujuan dan tiak semua metode mengajar cocok untuk membantu siswa untuk mencapai tujuan. Mengajar yang baik adalah melibatkan kecakapan dalam menentukan metode yang efektif. Teori gestalt banyak memberikan sumbangan menjelaskan hal ini.
Psikologi gestalt dalam praktik pembelajaran
Peletak dasar psikologi gestal adalah Max Wertheimer, kemudian dikembangkan oleh Kurt Lewin dengan “Cognitive-Field psychology”-nya. Psikologi gestalt menyusun belajar itu kedalam pola-pola tertentu.  Jadi bukan bagian-bagian. Sedangkan prinsip-prinsip belajar menurut teori gestalt adalah sebagai berikut:
  1. Belajar berdasarkan keseluruhan. Individu berusaha menghubungkan suatu  pelajaran dengan pelajaran yang lain sebanyak mungkin.
  2. Belajar adalah suatu proses perkembangan. Manusia sebagai suatu organisme yang berkembang, kesediaannya mempelajari sesuatu tidak hanya ditentukan oleh kematangan jiwa batiniyah, tetapi juga perkembangan anak karena lingkungan dan pengalaman.
  3. Anak didik sebagai organisme keseluruhan. Anak didik belajar tidak hanya intelektualnya saja, tetapi juga emosional dan jasmaniyahnya. Dalam pengajaran modern, selain mengajar guru juga mendidik untuk membentuk pribadi anak didik.
  4. Terjadi transfer. Jika suatu kemampuan telah dikuasai betul-betul, maka dapat dipindahkan untuk menguassai kemampuan yang lain.
  5. Belajar adalah reorganisasi pengalaman. Anak akan belajar dari pengalamannya bahwa kena api itu panas dan bisa membakar. Karena pengalamannya itu, ia tidak akan mengulangi lagi bermain api.
  6. Belajar harus insight. Adalah seseorang melihat suatu pengertian (insight) tentang sangkut paut dan hubungan-hubungan tertentu dalam unsur yang mengandung suatu problem.
  7. Belajar lebih berhasil bila berhubungan dengan minat, keinginan, dan tujuan.
  8. Belajar berlangsung terus menerus. Tidak hanya disekolah, tetapi juga diluar sekolah melalui pengetahuan dan pengalaman dalam kehidupannya.
Pembelajaran menurut Jean Piaget
Piaget, mengemukakan tentang perkembangan kognitif anak sesuai dengan perkembangan usia (=a cognitive developmental peppective). Prinsip teori Piaget dalam praktek pembelajaran di paparkan berikut;
  1. Belajar aktif. Dalam kaitan ini di tekankan bahwa untuk membantu perkembangan kognitif anak, perlu di ciptakan kondisi belajar yang memungkinkan anak belajar sendiri, dengan misalnya melakukan percobaan, mengajukan pertanyaan dan mencari jawaban sendiri, membandingkan penemuan sendiri dengan penemuan temannya dan sebagainya.
  2. Belajar lewat interaksi sosial. Lewat interaksi sosial perkembangan kognitif anak akan berpariasi dan mengarah pada banyak pandangan dengan macam-macam sudut pandang dan alternatif tindakan.
  3. Belajar akan lebih berkesan leewat pengalaman sendiri

Pembelajaran menurut JA Brunner
Brunner, yang mengembangkan psikologi kognitif dengan menemukan teori belajar “discovery”. Siswa didorong untuk belajar dengan diri mereka sendiri. Siswa belajar aktif dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip, guru mendorong siswa untuk mempunyai pengalaman- pengalaman  dan menghubungkan pengalaman –pengalaman tersebut untuk menemukan prinsip-prinsip  bagi diri mereka sendiri. Dalam pengaran disekolah, pembelajaran hendaknya mencakup pengalaman-pengalaman ptimal untuk mau dan dapat belajardan penstrukturasi pengetahuan untuk pemahan optimal dengan memperhatikan hal berikut:
1.      Penyajian
·         Penyajian ikonik dimana pengetahuan disajikan oleh sekumpulan gambar-gambar yang mewakili suatu konsep, tetapi tidak mendefinisikan sepenuhnya konsep itu.
·         Penyajian simbolik berassumsi bahwa kemauan seseorang lebih  memperhatikan preposisi/pernyataan daripada objek-objek yang memberikan strukturhirarkis pada konsep-konsep.
2.      Ekonomi
Penyajian suatu pengetahuan akan dihubungkuan dengan sejumlah informasi yang dapat disimpan dalam pikiran, dan diproses untuk mencapai pemahaman.
3.      Kekuasaan kekuatan diartikan sebagai kemampuan penyajian itu untuk menghubung-hubungkan hal-hal yang kelihatannya terpisah-pisah.
4.      Perincian urutan penyajian materi pelajaran.
5.      Cara pemberian “reinforcement”.
Pembelajaran menurut David Ausable   
Ausable berpendapat jika pengetahuan disusun dan disajikan dengan baik, siswa siswi akan dapat belajar dengan efektif melalui buku teks metode-metode ceramah. Prinsip-prinsip yang dapat mengefektifkan pembelajaran  dikemukaan sebagai berikut:
·         Pengaturan awal yang dapat digunakan guru dalam membantu mengaitkan konsep lama dan konsep baru yang lebih tinggi maknanya
·         Depferensiasi progresif yang dimaksudkan bahwa dalam dalam prosses belajar bermakna perlu ada pengembangan dan evaluasi konsep-konsep. Dengan cara memperkenalkan unsur yang paling umum dulu baru yang lebih mendetail, berarti pembelajaraan dari umum ke khusus.
·         Belajar super ordinat bermakna bahwa struktur kognitif anak mengalami pertumbuhan ke arah deferensiasi, terjadi sejak perolehan informasi dan diasosiakan dengan konsep dalam struktur kognitif tersebut.
·         Penyesuaian integratif.

Teri belajar pngolahan informasi
Komponn pertama sistem memori yang berfungsi menerima informasi baru adalah pusat kemampuan kesan-kesan penginderaan disebut memori indrawi. Stimulus yang daoat membangkitkan perhatian adalah
  1. Stimulus psiko-pisik yang berupa stimulus yang berpariasi dalam intensitas, ukuran, suara dan warna dan sebagainya.
  2. Stimulus emosional dilakukan demhan mengkoordinasikan materi pembelajaran, yang mampu membangkitkan emosi siswa.
  3. Stimulus kesenjangan yaitu stimulus yang mengandung aspek kebaharuan kompleksitas, dan keunikannya.
  4. Manding stimulus yang beerupa pernyataan verbal yang memiliki konsekuensi tinggi.
  5. Informasi yang diamati seseorang  akan masuk kedalam memori jangka pendek atau Short Term Memory (STM) atau Memori kerja (WM). STM adalah sistem penyimpanan yang mampu menyimpan sejumlah informasi selama beberapa detik. STM merupakan bagian dari memori dimana suatu informasi pada akhirnya dipikirkan untuk disimpan. Karena keterbatasan yang dimiliki oleh STM, maka bila seseorang berhenti untuk memikirkan informasi yang baru masuk, maka informasi akan segera hilang dari STM-nya, sehingga dalam pembelajaran guru tidak boleh terlalu banyak menyajikan gagasan dalam sekali pembelajaran kecuali jika gagasan itu diorganisir dengan baik dan dihubungkan dengan informasi yang telah ada didalam memri jangka panjang yang sudah dimiliki siswa (LTM).
Memori jangka panjang yang dimiliki siswa dibagi menjadi 3 yaitu:
  1. Memori episodic adalah memori tentang engalaman personal, atau gambaran mental mengenai sesuatu yang dilihat dan didengar.
  2. Memori semantic berisi fakta dan informasi tergeneralisasi yang telah diketahui sebelumnya, tentang konsep-konsep prinsip, dan cara menggunakan informasi tersebut.
  3. Memori procedural adalah pengetahuan tentang cara mengerjakan sesuatu, jenis memori ini disimpan dalam serangkaian pasangan stimulus-respon.
Penyebab seseorang mengalami luka adalah karena faktor interferensi yaitu informassi bercampur dengan atau tergeser oleh informasi yang lain. Ada 2 jenis interferensi ada 2 bentuk yaitu :
1.      Interferensi tetro, terjadi apabila informasi yang telah dipelajari mengganggu siswa dalam mempelajari informassi berikutnya.
Interferensi proaktif, terjadi bila informasi baru dipelajari mengganggu seeorang dalam mengingat informasi yang telah dipelajari sebelumnya. Cara untuk mengurangi interferensi retro aktif guru dapat berupaya dengan cara konsep yang sama atau yang memiliki karakteristik sama tidak diajarkan dalam waktu yang berdekatan dan menggunakan metode pembelajaran berbeda dalam mengajarkan konsep yang sama.

0 Responses to “MAKALAH APLIKASI TEORI BELAJAR DALAM PEMBELAJARAN”

Post a Comment