Pengertian Budaya Menurut Para Ahli

Pengertian Budaya Menurut Para Ahli-  Pada kesempatan kali ini, kami akan memberikan bahasan uraian mengenai pengertian budaya menurut para ahli dan keterkaitan budaya dengan ilmu pengetahuan, berikut bahasan yang akan kami uraikan di bawah ini:

Pengertian kebudayaan

Keseluruhan yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat istiadat, serta kemampuan dan kebiasaan lainnya yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat (EB. Taylor, 1871).
Mencerminkan tanggapan manusia terhadap kebutuhan dasar hidupnya (Montagu, 1961).
Kemampuan hewan adalah instinktif.
Kemampuan manusia adalah kebudayaan dan cara hidup yang meliputi kemampuan belajar, komunikasi, dan menguasai objek-objek yang bersifat fisik.
Kebudayaan adalah alat penyelamat (survival kit) kemanusiaan di muka bumi (Mavies & John Biesanz).
Kebudayaan diperoleh manusia secara sadar melalui proses belajar.
Kegiatan belajarlah yang meneruskan kebudayaan dari generasi ke generasi.

Enam nilai dasar kebudayaan

Teori
Ekonomi
Estetika
Sosial
Politik
Agama

Eksistensi kebudayaan dalam pendidikan

Masalah kebudayaan dalam pendidikan adalah menetapkan nilai-nilai budaya apa saja yang harus dikembangkan dalam diri anak.
Nilai-nilai budaya yang harus dikembangkan dalam diri anak didik haruslah relevan dengan kurun zaman dimana anak itu akan hidup kelak, dalam kehidupannya di masa depan.
Usaha sadar dan sistematis mengharuskan kita untuk lebih eksplisit dan devinitif tentang hakikat nilai-nilai budaya tersebut.
Fenomena perkembangan masyarakat Indonesia: peralihan dari masyarakat tradisional rural agraris menjadi masyarakat  modern yang urban dan bersifat industri.

Indikator masyarakat modrn

Lebih bersifat analitik dimana sebagian besar aspek kehidupan bermasyarakat didasarkan pada asas efisiensi baik yang bersifat teknis maupun ekonomis.
Lebih bersifat individual daripada komunal terutama ditinjau dari segi pengembangan potensi manusiawi dan masalah survival.
Pengembangan kebudayaan nasional kita ditujukan ke arah terwujudnya suatu peradaban yang mencerminkan aspirasi dan cita-cita bangsa Indonesia.
Untuk mewujudkan peradaban tersebut diperlukan nilai khusus yang bernama nilai kreativitas & nilai agama.
Kreativitas dapat diartikan sebagai kemampuan untuk mencari pemecahan baru terhadap suatu masalah. Nilai ini bersifat mendorong ke arah pengembangan segenap potensi kebudayaan dalam mewujudkan peradaban yang khas.
Nilai agama berfungsi sebagai sumber moral bagi segenap kegiatan.

Hubungan kebudayaan dengan ilmu pengetaahuan

Ilmu merupakan bagian dari pengetahuan dan pengetahuan merupakan unsur kebudayaan.
Ilmu dan kebudayaan berada dalam posisi yang saling tergantung dan saling mempengaruhi.
Pengembangan ilmu dalam suatu masyarakat tergantung dari kondisi budayanya, dan pengembangan ilmu akan mempengaruhi jalannya kebudayaan.
Peran ilmu dalam pengembangan kebudayaan nasional: Sebagai sumber nilai yang mendukung terselenggaranya pengembangan kebudayaan nasional, dan sebagai sumber nilai yang mengisi pembenukan watak suatu bangsa.

Demikian bahasan uraian yang dapat kami sajikan mengenai pengertian budaya menurut para ahli, semoga dapat bermanfaat bagi semua, sekian dan terimakasih.

Pengertian Ilmu Menurut Para Ahli

Pengertian Ilmu Menurut Para Ahli- Pada kesempatan kali ini, kami akan menguraikan materi mengenai vilsapat ilmu beserta pengertiannya menurut para ahli, yaitu sebagai berikut di bawah ini:

pengertian ilmu
Pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang (pengetahuan)itu. (Kamus Besar Bahasa Indonesia).
A systemized knowledge obtained by study, observation, experiment. (Webster’s Super New School & Office Dictionary).
The complete consistent description of fact and experience in the simplest possible term (Karl Pearson).
A systemized knowledge derives from observation, study, and experimentation carried on in order to determine the nature of principles of what being studied (Ashley Montangu).
The syste of man’s knowledge on nature, society, thought. It reflect the world in concepts, categories and laws, the correctness and truth of which are verified by practical experience (V. Avansyev)

Ilmu sebagai pengetahuan, artinya ilmu adalah suatu kumpulan yang sistematis atau sebagai kelompok pengetahuan teratur mengenai pokok soal atau subject matter. Dengan kata lain bahwa pengetahuan menunjuk pada sesuatu yang merupakan isi substantif yang terkandung dalam ilmu.
Ilmu sebagai aktivitas, artinya suatu aktivitas mempelajari sesuatu secara aktif, menggali, mencari, mengejar atau menyelidiki sampai pengetahuan itu diperoleh. Jadi ilmu sebagai aktivitas ilmiah dapat berupa penelaahan (study), penyelidikan (inquiry), usaha menemukan (attemp ti find), atau pencarian (search).
Ilmu sebagai metode, artinya ilmu pada dasarnya adalah suatu metode untuk menangani masalah-masalah, atau suatu kegiatan penelaahan atau proses penelitian yang mana ilmu mengandung prosedur, yakni serangkaian cara dan langkah tertentu yang menunjukkan pola tetap.

ciri-ciri ilmu

Empiris (berdasarkan pengamatan dan percobaan).
Sistematis (tersusun secara logis seta mempunyai hubungan saling bergantung dan teratur).
Objektif (terbebas dari persangkaan dan kesukaan pribadi).
Analitis (menguraikan persoalan menjadi bagian-bagian yang terinci).
Verifikatif (dapat diperiksa kebenarannya).

fungsi ilmu

Pandangan statis, ilmu yang berprofesi sebagai disiplin atau aktivitas untuk memperbaiki sesuatu, membuat kemajuan, mempelajari fakta, serta memajukan pengetahuan untuk memperbaiki sesuatu (bidang-bidang kehidupan).
Pandangan dinamis/heuristik/menemukan (bersifat praktis), ilmu berfungsi membentuk hukum-hukum umum yang melingkupi perilaku dari kejadian-kejadian empiris atau objek empiris yang menjadi perhatiannya sehingga memberikan kemampuan menghubungkan berbagai kejadian yang terpisah-pisah serta dapat secara tepat memprediksi kejadian-kejadian masa datang.

Sarat menjadi pengetahuan ilmiah

Dasar pembenaran, dengan melalui langkah-langkah pemahaman secara apriori, pengujian dengan metode ilmiah, dan pembenaran secara aposteriori.
Sifat sistematis, memiliki sistem dalam susunan pengetahuan ilmiah (produk) dan dalam cara memperoleh pengetahuan ilmiah tersebut (proses, metode).
Sifat intersubjektif, pengetahuan ilmiah yang telah diperoleh seseorang subjek telah mengalami verifikasi subjek lain, sehingga kebenarannya terjamin.

Sarat-sarat ilmu pengetahuan

Universal
Dapat dikomunikasikan (comunicable)
Prograsif

Demikian uraian yang dapat kami sajikan mengenai vilsapat ilmu, semoga dapat bermanfaat bagi anda semua, sekian dan terimakasih.

Pengertian Desain Pembelajaran Menurut Para Ahli


Pengertian Desain Pembelajaran Menurut Para Ahli- Pada kesempatan ini, kami akan memberi bahasan materi mengenai pengertian desain pembelajaran menurut para ahli atau pakar, diantaranya sebagai berikut:

Desain pembelajaran merupakan berasal dari sebuah gagasan bahwa suatu proses interaksi belajar perlu dirancang sebaik mungkin sehingga tujuannya tercapai. Desain Pembelajaran menurut Istilah dapat didefinisikan :

1.    Proses untuk menentukan metode pembelajaran apa yang paling baik dilaksanakan agar timbul perubahan pengetahuan dan ketrampilan pada diri pembelajar ke arah yang dikehendaki (Reigeluth)
2.    Rencana tindakan yang terintegrasi meliputi komponen tujuan, metode dan penilaian untuk memecahkan masalah atau memenuhi kebutuhan (Briggs)
3.     Proses untuk merinci kondisi untuk belajar, dengan tujuan makro untuk menciptakan strategi dan produk, dan tujuan mikro untuk menghasilkan program pelajaran atau modul (Seels & Richey)
Menyusun desain pembelajaran tidak lepas dari teori Teori Pendidikan Pedagogi, Andragogi, teori belajar perilaku (behavioristik), kognitif dan humanistic/Konstruktivistik. .   Juga tidak lepas dari teori desain program pembelajaran. Dalam mendesain pembelajaran perlu ditetapkan :   

a.    Apa dan siapa
b.    Bagaimana
c.    Hasil
d.    Pola Pembelajaran
e.    Cara Penyajian / Penyampaiaan

Komponen dasar dari desain pembelajaran adalah :
•    Pembelajar ( pihak yang menjadi fokus ) yang perlu diketahui meliputi, karakteristik mereka, kemampuan awal dan pra syarat
•    Tujuan Pembelajaran (umum dan khusus ) Adalah penjabaran kompetensi yang akan dikuasai oleh pembelajar.
•    Analisis Pembelajaran, merupakan proses menganalisis topik atau materi yang akan dipelajari
•    Strategi Pembelajaran, dapat dilakukan secara makro = dalam kurun satu tahun atau mikro = dalam kurun satu kegiatan belajar mengajar.
•    Bahan Ajar, adalah format materi yang akan diberikan kepada pembelajar
•    Penilaian Belajar, tentang pengukuran kemampuan atau kompetensi yang sudah dikuasai atau belum.

Desain Pembelajaran PLS/PNF
Mengembangkan desain program pembelajaran di pendidikan non formal harus bertitik tolak dari pemikiran bahwa sasaran belajar memiliki perbedaan dengan pendidikan formal. Sasaran belajar (pembelajar) di pendidikan non formal memiliki karakteritik yang hetergon. Sehingga jangan sampai lepas dari konsepsi andragogi. Menurut Knowles, untuk membina peserta didik dewasa cara mengajar untuk anak tidak berlaku lagi, atau haruslah ditinggalkan. Di tahun 1980 Knowles merubah pemahamannya bahwa pedagogi dan andragogi tidak harus dipertentangkan, tetapi saling melengkapi dalam pendidikan orang dewasa. Pembelajaran orang dewasa menurut Knowles bahkan dapat bertolak dari pedagogi kepada andragogi.
Terkait dengan desain pembelajaran di pendidikan non formal yang notabene peserta didik adalah usia dewasa maka penyelenggaraan pembelajaran perlu adanya pelibatan peserta didik dalam pembelajaran yang diikutinya. Kegiatan pembelajaran harus bersifat partisipatif. Hal ini dilandasi oleh konsep Knowles (1977) dalam Ishak Abdulhak bahwa orang dewasa tidak diberlakukan sama seperti anak-anak dalam pembelajarannya, hal ini karena mereka memiliki kondisi yang belum dimiliki anak-anak seperti orang dewasa telah memiliki konsep diri, pengalaman, kesiapan belajar dan orientasi belajar selalu disesuaikan dengan minat dan kebutuhannya.

Tentang cara belajar orang dewasa, Knowles memiliki asumsi sebagai berikut :
a.    Orang dewasa perlu dibina untuk mengalami perubahan dari kebergantungan kepada pengajar kepada kemandirian dalam belajar. Orang dewasa mampu mengarahkan dirinya mempelajari sesuai kebutuhannya.
b.    Pengalaman orang dewasa dapat dijadikan sebagai sumber di dalam kegiatan belajar untuk memperkaya dirinya dan sesamanya.
c.    Kesiapan belajar orang dewasa bertumbuh dan berkembang terkait dengan tugas, tanggung jawab dan masalah kehidupannya
d.    Orientasi belajar orang dewasa harus diarahkan dari berpusat pada bahan pengajaran kepada pemecahan-pemecahan masalah.
e.    Motivasi belajar orang dewasa harus diarahkan dari pemberian pujian dan hukuman kepada dorongan dari dalam diri sendiri serta karena rasa ingin tahu.

Knowles (1993) juga melihat perbedaan proses pembelajaran orang dewasa dengan anak-anak dalam tujuh aspek utama, yaitu suasana, perencanaan, diagnosa kebutuhan, penentuan tujuan belajar, rumusan rencana belajar, kegiatan belajar dan evaluasinya.
Selanjutnya Knowles memberikan gambaran untuk unsur-unsur proses  pembelajaran bagi orang dewasa, sehingga tutor/fasiltator bisa  membedakannya dengan merancang sebuah program pembelajaran yang sesuai dengan kondisi sasaran.
a.    Suasana
Santai, mempercayai, saling menghargai, informal, hangat,kerjasama,mendukung
b.    Perencanaan
 Kerjasama peserta didik dengan fasilitator
c.    Diagnosa kebutuhan
Bersama-sama: pengajar dan peserta didik
d.    Penetapan tujuan
Dengan kerjasama dan perundingan
e.    Desain rencana belajar
Perjanjian belajar(learning contracts), Projek belajar(learning projects), Urutan belajar atas dasar kesiapan(sequenced by readiness)
f.    Kegiatan belajar
Projek untuk penelitian(inquiry projects), Projek untuk dipelajari(learning projects), Tehnik pengalaman(experiential techniques)
g.    Evaluasi belajar
Oleh peserta didik berdasarkan evidensi yang dipelajari oleh rekan-rekan, fasilitator, ahli (by learner-collected evidence validated by peers, facilitators, experts), Referensinya berdasarkan criteria(criterion-referenced).
Demikian bahasan yang dapat kami sampaikan mengenai Pengertian Desain Pembelajaran Menurut Para Ahli, semoga dapat bermanfaat bagi anda semua, sekian dan terimakasih.

Pengertian, Fungsi, dan Manfaat Menulis Menurut Para Ahli

   Pada kesempatan kali ini, kami akan akan menguraikan beberapa pengertian, fungsi, dan manfaat menulis menurut para ahli, diantaranya sebagai berikut:

 Hakikat Menulis
1.    Pengertian Menulis
Menulis merupakan suatu kegiatan atau aktivitas seorang penulis untuk menyampaikan suatu gagasan secara tidak langsung kepada orang lain/pendengar dengan menggunakan lambang grafis yang dapat dipahami oleh pembaca, sebagaimana dikemukakan Tarigan (1986: 21) “Menulis adalah merumuskan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik.
Lambang-lambang yang digunakan dalam menulis pada hakikatnya adalah alat yang mewakili pikiran menulis. Karena itu dapat dikatakan bahwa menulis adalah proses mengungkapkan pikiran.
Berdasarkan uraian di atas dapat di simpulkan bahwa menulis adalah mengungkapkan gagasan, pikiran, perasaan dengan menggunakan lambang- lambang grafik.
2.    Tujuan Menulis
Menulis adalah menyampaikan pikiran berupa sebuah tulisan. Tarigan (2008: 24) mengemukakan bahwa setiap jenis tulisan mengandung beberapa tujuan, tetapi tujuan itu sangat beraneka ragam, bagi penulis yang belum berpengalaman ada baiknya memperhatikan kategori sebagai berikut :
a.    Memberitahukan atau mengajar
b.    Menyakinkan atau mendesak
c.    Menghibur atau menyenangkan
d.    Mengutarakan, mengekspresikan perasaan dan emosi yang berapi-api
Hugo Hartig dalam Tarigan (2008: 25) merangkum tujuan menulis sebagai berikut :
a.    Assignment purpose (tujuan penugasan)
Tujuan penugasan ini sebenarnya tidak memiliki tujuan sama sekali.
Penulis menulis sesuatu karena ditugaskan, bukan atas dasar kemauan sendiri.
b.    Altruistik purpose (tujuan altruistik)
Penulis bertujuan untuk menyenangkan para pembaca, menghindarkan kedukaan para pembaca, ingin menolong para pembaca memahami, menghargai perasaan dan penalarannya, ingin membuat hidup para pembaca lebih mudah dan lebih menyenangkan dengan karyanya itu. 
c.    Persuasive purpose (tujuan persuasif)
Tulisan yang bertujuan meyakinkan para pembaca akan kebenaran gagasan yang diutarakan.
d.    Informational purpose (tujuan informasional, tujuan penerangan)
Tulisan yang bertujuan memberikan informasi atau keterangan kepada  pembaca.
e.    Self-expressive purpose (tujuan pernyataan diri)
Tulisan yang bertujuan memperkenalkan atau menyatakan diri pengarang kepada pembaca.
f.    Creative purpose (tujuan kreatif)
Tujuan ini erat berhubungan dengan tujuan pernyataan diri. Tetapi “keinginan kreatif” di sini melebihi pernyataan diri, dan melibatkan dirinya dengan keinginan mencapai nora artistik, atau seni yang ideal, seni idaman. 
g.    Problem-solving purpose (tujuan pemecahan masalah)
Tujuan menulis yakni penulis ingin menyampaikan amanat, pesan atau sekedar memberikan informasi saja tentang sesuatu. Dalam hal ini, ada kalanya penulis menyampaikan sesuatu gagasan dan mengembangkan melalui seluruh tulisannya.

3.    Fungsi Menulis
Tarigan (2008: 22) mengemukakan “Pada prinsipnya fungsi utama dari suatu tulisan adalah sebagai alat komunikasi yang tidak langsung.”. Menulis sangat penting bagi pendidikan karena memudahkan para pelajar berfikir, juga dapat membantu kita berfikir secara aktif dan kritis. Juga dapat memudahkan kita merasakan dan menikmati hubungan-hubungan, memperdalam daya tangkap atau persepsi kita, memecahkan permasalahan yang kita hadapi, menyusun urutan bagi pengalaman.
Tulisan dapat membantu kita menjelaskan pikiran-pikiran kita, tidak jarang kita menemui apa yang sebenarnya kita pikirkan dan rasakan mengenai orang-orang, gagasan-gagasan, masalah-masalah dan kejadian-kejadian hanya dalam proses menulis yang aktual.

Menurut Erdina, dkk (2005: 5) fungsi menulis berdasarkan kegunaannya adalah sebagai berikut :
a.    Melukiskan yaitu penulis berusaha membuat suatu karangan dengan  menggambarkan atau mendeskripsikan tentang suatu hal, sehingga pembaca  mempunyai gambaran yang jelas tentang hal tersebut.
b.    Memberi petunjuk yaitu penulis berusaha memberi petunjuk tentang cara-cara, aturan-aturan untuk melaksanakan sesuatu, sehingga pembaca akan bekerja sesuai dengan petunjuk tersebut. Fungsi demikian terdapat dalam buku-buku pedoman, resep dan sebagainya.
c.    Memberitahukan yaitu dalam karangan penulis memberikan perintah, permintaan, anjuran, nasihat, agar pembaca menjalankannya, atau larangan agar pembaca tidak menjalankan perintahnya. Biasanya tulisan demikian disertai alasannya mengapa hal itu boleh atau tidak boleh dilakukan.
d.    Mengingat yaitu penulis mencatat peristiwa, keadaan, keterangan dan lain-lain, dengan maksud agar hal tersebut terlupakan mungkin oleh penulis sendiri, mungkin pula oleh orang lain. Fungsi demikian terdapat pada buku harian, memori, piagam dan lain-lain.
e.    Berkoresponden yaitu penulis melaksanakan surat menyurat dengan orang lain. Ia memberitahu, menanyakan, meminta atau memerintah sesuatu kepada orang yang dituju.

Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, penulis dapat menyimpulkan, bahwa menulis banyak sekali fungsinya yang bermanfaat bagi kita pembaca. Fungsi menulis dalam pembelajaran yang penulis lakukan adalah melatih siswa menulis karangan sederhana berdasarkan kesesuaian isi dengan topik, kesistematisan isi, pilihan kata, keefektifan kalimat, penggunaan EYD (huruf kapital, tanda titik dan tanda koma).
Siswa dituntut untuk menyesuaikan tulisan karangannyas sesuai dengan topik yang jelas, isi yang istematis serta pilihan kata yang sesuai kalimatnya efektif dan mudah dipahami.
4.    Manfaat menulis
    Dalam sebuah makalahnya, Yus Rusyana mengungkapkan manfaat menulis sebagi berikut:
a.    Mencatat sesuatu agar tidak mudah dilupakan
     Kegiatan seperti ini yang paling umum dilakukam adalah membuat catatan pada agenda harian, misalnya tentang acara kegiatan atau tentang garis besar suatu pembicaraan. Membuat catatan seperti ini berguna mengatasi kemungkinan lupa atau kelupaan dan dapat dijadikan dokumentasi yang dapat kita buka pada saat diperlukan.
b.    Mencatat pikiran-pikiran
Masalah-masalah yang ditemukan dalam kehidupan ini akan cepat teratasi apabila kita mengetahui jelas pokok permasalahan yang dihadapi. Salah satu cara untuk menghadapi yaitu dengan mencatat masalahnya dan hal-hal yang diperlukan untuk memecahkan masalah tersebut.
Seorang ulama terkenal yaitu Imam Syafi’i mengatakan bahwa mencatat adalah alat untuk mengikat ilmu atau bacaan. Sekiranya catatan tidak ada lalu kita lupa maka ilmu itu lenyaplah dari diri kita.


c.    Mencatat renungan-renungan
Dalam kehidupan, sering kita memaknai sesuatu dengan cara merenung. Dengan merenung kita menyadari bahwa hidup ini bukanlah kesia-siaan. Renungan itu jangan dibiarkan hilang dan dilupakan, karena itu tulislah sebuah renungan yang terlintas dalam benak kita.
d.     Mencatat gagasan-gagasan
Pada waktu menemukan sebuah gagasan, catatlah gagasan tersebut untuk kita pikirkan lebih lanjut dan kita laksanakan. Gagasan yang dibiarkan terlupakan tidak akan membuahkan sesuatu sehingga kita kekeringan gagasan.
Selain manfaat menulis yang dikemukakan oleh Yus Rusyana, Sabarti Akhidaiyat (1996: 1-20) mengemukakan beberapa manfaat penulisan sebagai berikut:
1)    Dengan kegiatan menulis, kita dapat lebih mengenali kemampuan dan potensi diri kita.
2)    Dengan kegiatan menulis, kita dapat mengembangkan beberapa gagasan.
3)    Dengan kegiatan menulis, kita dapat lebih banyak menyerap serta menguasai informasi sehubungan dengan topik yang kita tulis.
4)    Dengan kegiatan menulis, kita dapat memecahkan permasalahan yaitu dengan menganalisanya secara tersurat dalam konteks yang konkrit.

Demikian sajian materi yang dapat kami sampaikan mengenai pengertian, fungsi, dan manfaat menulis, semoga dapat bermanfaat bagi anda semua, sekian dan terimakasih.

Latar Belakang dan Rumusan Masalah Menulis Karangan Menggunakan Media Gambar Seri

BAB I
    PENDAHULUAN   

A.    Latar Belakang Masalah
Latar Belakang dan Rumusan Masalah Menulis Karangan Menggunakan Media Gambar Seri- Menulis merupakan salah satu aspek keterampilan berbahasa yang sangat penting. Dalam dunia pengajaran bahasa terdapat suatu ungkapan yang patut diperhatikan oleh guru bahasa. Ungkapan itu berbunyi: “Menulis satu huruf lebih bermakna daripada diam”. Ungkapan ini sesuai dengan pengajaran keterampilan menulis karena menulis merupakan salah satu faktor penentu wawasan keilmuan seseorang, apakah orang tersebut mempunyai wawasan yang luas atau tidak. Hal ini dapat diamati dari perbendaharaan kata dan penguasaan konteks serta kohesi dan koherensi dalam hasil karangan.
Menulis dipandang sebagai suatu ilmu dan seni karena disamping memiliki aturan-aturan juga mengandung tuntutan bakat yang menyebabkan suatu tulisan tidak semata-mata sebagai batang tubuh sistem yang membawakan makna atau maksud tetapi juga membuat penyampaian tersebut menjadi unik, menarik dan menyenangkan pembacanya (Iip Latifah,2005:3).
Pengajaran sastra yang diberikan di sekolah, masih kurang mampu mendekatkan siswa kepada sastra karena sebagaimana dikemukakan oleh Tarigan (1993: 186) bahwa “pengajaran mengarang belum terlaksana dengan baik di sekolah. Kelemahannya terletak pada cara guru mengajar umumnya kurang bervariasi, dan kurang dalam frekuensi, pembahasan karangan siswa kurang dilaksanakan oleh guru.
Guru sebagai pengajar di sekolah harus menggunakan metode, teknik, media atau model pembelajaran yang tepat untuk dapat menarik dan mengarahkan minat dan kemampuan siswa dalam menulis karangan sederhana. Salah satu upaya guru untuk meningkatkan minat siswa dalam menulis karangan sederhana yaitu dengan menggunakan media pengajaran dalam proses belajar mengajar. Seperti kita ketahui, media sesungguhnya memegang peranan yang sangat penting dalam usaha meningkatkan kualitas pembelajaran.
Begitu pentingnya guru beserta variasi media yang digunakan dalam pengajaran, maka penulis akan mencoba meneliti penggunaan media dalam pembelajaran menulis karangan berdasarkan pengalaman. Media yang akan penulis gunakan yaitu berupa gambar berseri. Ketika melihat gambar berseri, barangkali pikiran kita langsung melayang pada imaji yang telah teralami. Gambar berseri adalah media yang dapat digunakan untuk merangsang dan meningkatkan kemampuan  belajar menulis pada siswa, dimana siswa melihatnya tanpa harus dibujuk. Melalui bimbingan guru, gambar berseri dapat berfungsi sebagai jembatan untuk meningkatkan kemampuan menulis.
Mengingat betapa pentingnya arti kemampuan menulis bagi siswa sudah sewajarnya pengajaran menulis dibina sebaik-baiknya. Hal tersebut dapat dicapai dengan bimbingan yang sistematis dan latihan yang intensif sehingga tidak mengherankan bila keterampilan menulis disebut keterampilan yang bersifat mekanistis. Artinya kemampuan menulis itu tidak mungkin dikuasai siswa hanya melalui teori saja, seperti diungkapkan oleh Tarigan (1994:4) bahwa keterampilan menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang diperoleh melalui proses praktik dan latihan secara teratur. Keterampilan menulis tidak datang secara otomatis tetapi harus melalui latihan dan praktik yang banyak dan teratur.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan pengajaran menulis kurang mengarah :
1.    Ada tidaknya buku-buku pelajaran sastra. Berkaitan dengan itu Sumardjo dan Seni (1989, vi) menjelaskan bahwa bacaan yang berbobot masih kurang dan karya sastra hanya dijadikan hafalan judul buku dan pengarangnya, sehingga pada akhirnya anak didik kebingungan dalam memilih bacaan yang berbobot.
2.    Faktor sarana menyangkut tidak adanya perpustakaan sekolah yang cukup memadai, sehingga buku-buku sastra yang tersedia kurang mendukung tercapainya tujuan pengajaran.
3.    Faktor guru ditinjau dari cara menyampaikan materi, guru lebih menekankan pengetahuan tentang sastra dan kurang memperhatikan kemampuan siswa dalam mengapresiasi dan mengekspresikan karya sastra.
Hal ini didukung pula oleh kondisi siswa yang merasa jenuh ketika harus belajar bahasa yang dianggap membosankan ditambah lagi tidak adanya media yang merangsang mereka untuk bisa menyukai pelajaran menulis dan dipertegas oleh pendapat Agustini (1977: 88) bahwa siswa tidak menyenangi pelajaran mengarang. Beberapa faktor yang menyebabkan siswa tidak menyukai pelajaran mengarang yaitu (1) siswa tidak memiliki bakat menulis, (2) siswa menemui banyak kesulitan dalam mengarang, (3) siswa jarang berlatih menulis, (4) guru tidak terampil mengajarkan menulis, (5) guru kurang memotivasi siswa dalam menulis.
Hal senada diungkapkan  oleh Tarigan ( 1991: 3 ) bahwa penyebab kekurangmampuan siswa dalam mengarang antara lain:
1.    Sikap sebagian besar masyarakat terhadap bahasa Indonesia belum menggembirakan, mereka tidak malu memakai bahasa yang salah.
2.    Kesibukan guru bahasa Indonesia di luar jam kerjanya menyebabkan mereka tidak sempat lagi memikirkan bagaimana cara pelaksanaan pengajaran mengarang yang lebih menarik dan efektif.
3.    Metode dan teknik pengajaran mengarang kurang bervariasi serta mungkin sekali hasil karangan siswa yang ada pun tidak sempat dikoreksi.
4.     Bagi siswa sendiri pelajaran mengarang dirasakan sebagai beban belaka dan kurang menarik
5.    Latihan mengarang sangat kurang dilakukan oleh siswa
Perlu disadari bahwa proses pembelajaran yang menyenangkan merupakan salahsatu faktor yang dapat menunjang keberhasilan suatu pembelajaran. Oleh karena itu, dituntut kreativitas yang tinggi dari para pengajar untuk terus mencari teknik dan media pembelajaran yang dapat menciptakan suasana pembelajaran seperti diharapkan dalam materi pembelajaran.
     Salah satu cara untuk mengatasi masalah di atas yaitu dengan penggunaan media gambar berseri yang dapat digunakan sebagai alternatif untuk mengurangi kebosanan siswa saat belajar menulis karangan dan untuk meningkatkan keterampilan siswa menulis karangan. Pemilihan media gambar berseri diharapkan akan mampu mengatasi kejenuhan siswa saat belajar menulis karangan. Siswa diharapkan akan menyukai pembelajaran menulis karangan narasi dengan menggunakan media gambar berseri. Rasa antusias inilah yang ingin dibidik penulis pada saat pembelajaran menulis karangan sederhana.
Hasil pengamatan dan identifikasi penulis selama menjadi tenaga pendidik tidak tetap di MI 1 Condong selama ini yaitu masih adanya siswa kelas III yang memiliki kemampuan dan keterampilan yang minimal dalam menulis karangan. Hal ini dibuktikan dari nilai yang diperoleh dalam  menulis karangan pendek masih kurang baik. Siswa cenderung tidak bisa memulai mengembangkan karangan meskipun tema karangannya sederhana. Siswa terlihat enggan dalam memulai menulis karangan dan tampak kurang memperhatikan instruksi guru untuk memulai menulis karangan. Imajinasi siswa dalam mengembangkan karanganpun seolah selalu terputus dan mengulang kata-kata dalam karangannya.
Peran pendidikan dalam mengelola pembelajaranpun sangatlah penting. Sebagai sosok yang mentransformasikan pengetahuan dan keterampilan, ia memiliki peran penting untuk menciptakan suasana pembelajaran menjadi lebih menarik dan menyenangkan. Maka, penggunaan media pembelajaran sebagai alat bantu mengajar memiliki peran yang penting. Penggunaan media belajarpun selama ini cenderung masih terbatas sehingga nampak siswa kurang tertarik mengikuti pelajaran menulis karangan. Dari 37 siswa kelas III MI 1 Condong yang terlihat tertarik dalam menulis karangan hanya 15 orang saja yang terlihat menekuni latihan menulis karangan, sisanya terlatih menulis karangan dengan asal-asalan dan tidak mampu merangkai kata demi kata untuk kemudian mengembangkan karangannya menjadi lebih baik. Mengingat pentingnya keterampilan mengarang pada siswa MI kelas III ini, penulis tertarik untuk melakukan Penelitian Tindakan Kelas dengan menggunakan media belajar gambar berseri maka penulis mengambil  judul penelitian “PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS KARANGAN SEDERHANA DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA GAMBAR SERI
    DI KELAS III MI 1 CONDONG” KAB. TASIKMALAYA.

B.    IDENTIFIKASI MASALAH
Hasil pengamatan kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia di MI 1 Condong ditemukan bahwa siswa MI 1 Condong kelas III, nilai bahasa Indonesia khususnya dalam pembelajaran menulis karangan, dari 37 siswa tergolong masih kurang. Hal ini disebabkan anggapan anak mengalami kesulitan dalam pembelajaran menulis karangan dibandingkan dengan aspek belajar bahsa Indonesia yang lainnya.
    Ketidak berhasilan siswa dalam pembelajaran menulis karangan disebabkan oleh terbatasnya variasi metode pembelajaran, dan minimalnya  penggunaan alat peraga bahasa Indonesia dalam proses pembelajaran oleh  guru, sehingga akhirnya proses pembelajaran cendrung kurang menarik serta siswa kurang aktif  dalam pembelajaran, dampak selanjutnya adalah berpengaruh pada nilai akhir pelajaran bahasa Indonesia pada siswa kelas III yang tergolong rendah.
C.    Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah di atas, perumusan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.    Bagaimanakah langkah-langkah pembelajaran menulis karangan dengan  penggunaan media gambar seri untuk  meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis karangan sederhana?
2.    Bagaimanakah perubahan kemampuan siswa dalam menulis karangan sederhana setelah menggunakan media gambar seri?
D.    Pembatasan Masalah
Hasil pengamatan dan identifikasi penulis selama menjadi tenaga pendidik  MI 1 Condong selama ini yaitu masih adanya siswa kelas III yang memiliki kemampuan dan keterampilan yang minimal dalam menulis karangan. Hal ini dibuktikan dari nilai yang diperoleh dalam  menulis karangan pendek masih kurang baik. Siswa cenderung tidak bisa memulai mengembangkan kata demi kata meskipun tema karangannya sederhana. Siswa terlihat enggan dalam memulai menulis karangan dan tampak kurang memperhatikan instruksi guru untuk memulai menulis karangan. Imajinasi siswa dalam mengembangkan karanganpun seolah selalu terputus dan mengulang kata-kata dalam karangannya. Sehingga, siswa menganggap pembelajaran menulis karangan ini adalah pelajaran yang sangat membosankan, dan menjenuhkan.
Dengan demikian, salah satu cara untuk mengatasi masalah di atas yaitu dengan penggunaan media gambar berseri yang dapat digunakan sebagai alternatif untuk mengurangi kebosanan siswa saat belajar menulis karangan dan untuk meningkatkan keterampilan siswa menulis karangan. Pemilihan media gambar berseri diharapkan akan mampu mengatasi kejenuhan siswa saat belajar menulis karangan. Siswa diharapkan akan menyukai pembelajaran menulis karangan sederhana dengan menggunakan media  gambar seri.
E.    Tujuan Dan Maksud Penulisan
    Tujuan penelitian ini adalah  mendeskripsikan langkah- langkah pembelajaran menulis karangan sederhana dan mendeskripsikan perubahan kemampuan siswa dalam menulis karangan sederhana setelah menggunakan media gambar seri. 
F.    Pola Pikir Penelitian
Media pembelajaran merupakan alat bantu yang digunakan oleh guru dalam rangka berkomunikasi dengan siswa. Artinya, proses komunikasi yang menggunakan media pembelajaran harus mendasarkan diri pada tujuan pembelajaran, seperti halnya dalam pembelajaran menulis karangan sederhana yang menuntut pemanfaatanmedia berupa media gambar seri.
     Media pembelajaran berupa media gambar seri dalam pembelajaran menulis karangan sederhana memegang peranan penting dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Melalui pemanfaatan media gambar seri dalam pembalajaran menulis karangan sederhana, siswa dapat mengerti alur cerita peristiwa sehingga dapat mengarang dengan sistematis, siswa tidak cepat bosan sehingga perhatiannya selalu terfokus pada kesan yang dilihat dan pada akhirnya akan meningkatkan kemampuan mengarang siswa.
     Kerangka pikir penelitian ini tentang pemanfaatan media gambar seri dalam pembelajaran menulis karangan sederhana terhadap prestasi siswa, digambar sebagai berikut:


G.    HIPOTESIS
Dalam penelitian ini, hipotesis yang penulis gunakan yaitu bahwa penggunaan media belajar gambar berseri memberikan kemudahan kepada guru dalam menyampaikan materi pembelajaran menulis karangan dan siswa kelas III MI 1 Condong menjadi lebih tertarik serta termotivasi  dalam mengikuti pembelajaran mengarang, sehingga bisa dikatakan akan terjadi perbedaan antara pembelajaran mengarang yang menggunakan media belajar dengan yang tidak menggunakan media belajar.




Contoh Surat Rekomendasi

                                                      
 Berikut ini adalah contoh sutar rekomendasi:



                                                         SURAT  REKOMENDASI
                                                         Nomor :         /E7/KP/2017

Berdasarkan surat dari Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Non Formal tanggal 3 Maret 2017 Nomor 1064/BAN PNF/VI/2017 perihal pemberitahuan Seleksi Assesor Akreditasi, maka yang bertanda tangan dibawah ini  Kepala Pusat Pengembangan Pendidikan Non Formal dan Informal (P2PNFI) Regional I Jayagiri memberikan rekomendasi kepada
Nama            : Apip Hermana, S.Pd
NIP                : 132305451
Alamat            :  Kp.Nagrak Rt/Rw 02/08 Ds.Sindangraja Kec. Jamanis Kabupaten          Tasikmalaya
Jabatan            : Pamong Belajar Pertama
No.Tlp./HP        : 081321364104
Dalam pertimbangan kami, nama diatas telah memenuhi syarat kualifikasi akademik, kompetensi, dan pengalaman lebih dari lima (5) tahun di bidang pendidikan non formal sehingga disetujui untuk diajukan sebagai ASSESOR PROGRAM SATUAN PENDIDIKAN KESETARAAN ke Badan Akreditasi Nasional Pendidikan NonFormal (BAN-PNF) DEPDIKNAS untuk mengikuti SELEKSI REKRUITMEN ASSESOR BAN-PNF Tahun 2017.

                                                                                                                        Bandung, 1 Maret 2017
                                                                                                                        a.n. Kepala,
                                                                                                                        Kepala Bidang Fasilitasi
                                                                                                                        Sumber Daya,






                        Drs. Dadang Sudarman T
                         NIP.  131877260



Demikian informsi yang dapat kami sampaikan mengenai contoh surat rekomendasi dan mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi anda semu, sekian dan terimaksih.


Contoh Surat Permohonan Menempuh Seminar Proposal



Perihal             : Permohonan Menempuh
                          Seminar Proposal
Lampiran         : Proposal Penelitian



Yth. Direktur Sekolah Pasca Sarjana
Universitas Pendidikan Indonesia
Di
Bandung

Yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama                           : APIP HERMANA
NIM                             : 0907780
Angkatan                     : III
Program Studi              : Pendidikan Luar Sekolah
Jenjang                                    : S2
Status                           : Menikah
Alamat Bandung          : Jl. Jayagiri Lembang Bandung Jabar
No.Telp                       : 081321364104


Dengan ini mengajukan permohonan untuk menempuh seminar proposal penelitian 
, sebagai bahan pertimbangan, bersama ini saya lampirkan :
1.      Proposal penelitian yang telah disetujui oleh Ketua Program Studi
2.      Fotocopy Kartu Rencana Study (Kontrak Kredit)
3.      Fotocopy TAnda bukti SPP terakhir
Permohonan ini saya sampaikan dengan harapan mendapat persetujuan dari Bapak.

Atas perhatian Bapak, saya ucapkan terimakasih.


Bandung, ……………………………
Mengetahui,
Ketua Program Studi,                                                               Pemohon,



…………………………                                                           Apip Hermana            
NIP.                                                                                         NIM. 0907780


Catatan : Proposal Penelitian Progam Doktor (S3) rangkap 4
                Proposal Penelitian Progam Magister (S2) rangkap 3

Perihal             : Permohonan Menempuh
                          Seminar Proposal
Lampiran         : Proposal Penelitian



Yth. Direktur Sekolah Pasca Sarjana
Universitas Pendidikan Indonesia
Di
Bandung

Yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama                           : ……………………………………………………………….
NIM                             : ……………………………………………………………….
Angkatan                     : ……………………………………………………………….
Program Studi              : ……………………………………………………………….
Jenjang                                    : ……………………………………………………………….
Status                           : ……………………………………………………………….
Alamat Bandung          : ……………………………………………………………….
No.Telp                       : ……………………………………………………………….

Dengan ini mengajukan permohonan untuk menempuh seminar proposal penelitian, sebagai bahan pertimbangan, bersama ini saya lampirkan :
1.      Proposal penelitian yang telah disetujui oleh Ketua Program Studi
2.      Fotocopy Kartu Rencana Study (Kontrak Kredit)
3.      Fotocopy TAnda bukti SPP terakhir
Permohonan ini saya sampaikan dengan harapan mendapat persetujuan dari Bapak.

Atas perhatian Bapak, saya ucapkan terimakasih.


Bandung, ……………………………
Mengetahui,
Ketua Program Studi,                                                               Pemohon,



…………………………                                                           ……………………………………….  
NIP.                                                                                         NIM.


Catatan : Proposal Penelitian Progam Doktor (S3) rangkap 4
                Proposal Penelitian Progam Magister (S2) rangkap 3